Sabtu, 05 Maret 2011

Renungan Kita

Banyak manusia terlena dengan gemerlapnya dunia ,sampai-sampi mereka bermusuhan dan saling membunuh satu sama lain demi mendapatkan dunia ( semoga kita tidak termasuk didalamnya) dan ini termasuk fitroh manusia,. Allah berfirman :
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ
14.  Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Q.s Ali ‘imran:14)
Maka untuk itu kita sebagai hamba Allah yang mengharapkan ridho dan pahalanya,harus mengetahui hakekat dunia,,yang sungguhnya Allah berfirman :
وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآَخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
64.  Dan tiadalah kehidupan dunia Ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang Sebenarnya kehidupan, kalau mereka Mengetahui. (Q.s Al Ankabut: 64)
Dunia ini adalah sendau gurau dan permainan, dan sebagai orang beriman akheratlah tujuan kita,karena kehidupan akherat adalah kehidupan yang nyata dan kekal.

Jangan putus asa

Dalam kehidupan ini pastilah kita selalu berusaha untuk menjadi lebih baik, baik untuk kehidupan dunia terlebih untuk akherat. Kita juga pasti mempunyai cita-cita tinggi, mempunyai tujuan yang mulia dan sebagainya. Bagaimana kalau di tengah jalan ada cobaan yang sangat berat? Ternyata tidak semuanya bersikap sama. Ada diantara kita yang tetap tabah menghadapi ujian itu, ada yang tetap sabar. Namun sayang sekali.. tidak sedikit diantara kita berputus asa dan berbalik arah. Padahal sesungguhnya semua urusan untuk orang mu’min itu baik sebagaimana sabda Rosululloh SAW : “Sungguh sangat menakjubkan urusan orang-orang mu’min, apabila ia mendapat nikmat, ia bersyukur, apabila ia tertimpa musibah, ia bersabar”. Selayaknya orang-orang beriman menghadapi musibah dengan sabar dan jangan malah berputus asa. Alloh SWT sangat membenci orang-orang yang berputus asa dari rahmatNya.
Pernahkah kita perhatikan seorang bayi yang sedang belajar berjalan. Dia jatuh, bangun lagi, jatuh lagi, bangun lagi. Dia tak pernah kapok untuk belajar berjalan, dia tidak pernah bosan untuk mencoba hal yang sama terus-menerus,sedemikian uletnya dia seolah-olah ia tahu bahwa inilah jalan keberhasilan yang harus ditempuh. Tanpa kenal lelah dia terus berusaha dan terus berlatih hingga akhirnya ia bisa berjalan sebagai buah dari usaha yang dilakukan selama ini. Bayangkan kalau saat ia jatuh lalu sang bayi memutuskan untuk berhenti berusaha, putus asa ataupun ia bosan lalu ia bermalas-malasan, dapat dipastikan ia takkan bisa berjalan sampai dewasa. Tapi Alloh SWT menciptakan bayi tidak seperti itu. Secara naluri ia akan berlatih dan terus berlatih hingga ia bisa berjalan.
Pernahkah kita melihat diri kita yang sedang berikhtiar, sedang mencari ilmu atau sedang berkarya untuk hasil terbaik lalu banyak ujian, cobaan dan aral rintang menghadang, apakah kita akan mandeg, atau terus istiqomah dan terus konsisten atas usaha yang sedang kita jalani? Ya sikap istiqomahlah yang harus kita pilih, bukan sebaliknya. Kalau kita di tengah jalan berputus asa, sia-sialah usaha kita selama ini. Sangat disayangkan bukan? Pantang menyerah, itulah yang harus kita lakukan agar kita bisa meraih tujuan dan memperoleh keberhasilan dari usaha yang sedang kita jalani.
Banyak sekali ayat-ayat dalam Al Quran yang melarang kita untuk berputus asa seperti dalam Al Quran Surat Yusuf ayat 81, Alloh SWT berfirman artinya : “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”
Pada ayat tersebut diceritakan bahwa Nabi Ya’kub meminta anak-anaknya untuk mencari Yusuf. Ia sudah sangat rindu kepada Yusuf, anak kesayangannya yang mempunyai kelebihan dibanding anak-anaknya yang lain karena telah sekian lama berpisah sejak Yusuf ketika dulu diajak bermain oleh saudara-saudaranya yang lain. . Nabi Ya’kub berpesan kepada anak-anaknya agar tidak berputus asa dari rahmat Alloh agar mereka terus dan terus mencari Yusuf sampai ketemu. Akhirnya atas izin Alloh akhirnya mereka dapat bertemu Yusuf.
Demikian juga dalam Al Quran Surat Al Hijr ayat 51-56 Alloh SWT berfirman :
“Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan: “Salaam.” Berkata Ibrahim: “Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu.” Mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim. Berkata Ibrahim: “Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?” Mereka menjawab: “Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa. Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.”
Ayat di atas menceritakan bahwa para malaikat memberi kabar gembira kepada Ibrohim AS bahwa Ia akan dkaruniai seorang anak yang alim yaitu nabiyulloh Ishak AS, padahal ketika itu usianya sudah renta. Secara logika sungguh sulit mempunyai keturunan saat usia sudah lanjut. Karena itu Ibrahim menyanggahnya dengan mengatakan bahwa bagaimana mungkin ia akan mempunyai anak sementara usianya sudah lanjut. Lalu malaikat meyakinkan Nabi Ibrahim bahwa kabar gembira yang diterimanya adalah benar dan berpesan agar ia tidak termasuk orang yang berputus asa. Dan memang benar Nabi Ibrahim tidak pernah berputus asa dari rahmat Alloh, walaupun usia sudah lanjut namun ia terus berdoa agar mendapatkan seorang keturunan, sebagaimana ayat ke 56 yaitu “Tidak berputus asa dari rahmat Alloh kecuali orang-orang yang sesat.”
Mungkin diantara kita ada yang sedang diuji Alloh SWT , sulit mendapatkan keturunan bisa mengambil ibrah dari kisah Ibrahim ini. Terus dan teruslah berdoa kepada Alloh SWT agar dkaruniai anak yang sholeh dan sholehah sambil berikhtiar agar apa yang kita inginkan terkabul.
Pada ayat yang lain yakni dalam Al Quran Surat Al Insyiroh ayat 5-6 Alloh SWT berfirman : “Fainna ma’al ‘usrii yusron, inna ma’al ‘usrii yusron “
Artinya :
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
Pada ayat di atas Alloh SWT menyebutkan sampai dua kali bahwa sesudah kesulitan itu akan ada kemudahan. Pada ayat tersebut Alloh SWT membimbing kita agar jangan pernah menyerah pada keadaan sesulit apapun. Jangan pernah berputus asa. Karena apa? Karena sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Yakinlah bahwa harapan itu masih ada. Jadi, tidak ada alasan buat kita untuk loyo, patah semangat, dan berkeluh kesah karena ditimpa ujian atau musbah. Teruslah semangat agar tercapai harapan-harapan kita.
jangan pernah berputus asa. Ingat bahwa rahmat Alloh SWTsangat luas, Alloh SWT juga tidak akan membebani hamba melainkan sesuai kemampuannya. Tidak ada kamusnya bagi seorang muslim untuk berputus asa dalam kehidupan, karena sesungguhnya banyak kisah teladan yang menggambarkan seberapa dekatnya ia dengan keberhasilan, lalu kandas d tengah jalan gara-gara ia berputus asa. Jadi apapun ujian yang menghadang kita, tetaplah optimis bahwa suatu saat nanti kita akan berhasil. Tetaplah SEMAAAANGKA semangat

Jumat, 04 Maret 2011

Kamis, 03 Maret 2011

Dusta Yang Mana Lagi...?

Pernahkah anda membaca surat Ar-Rahman? Surat ar-Rahman adalah surat ke 55 dalam urutan mushaf utsmany dan tergolong dalam surat Madaniyah serta berisikan 78 ayat. Satu hal yang menarik dari kandungan surat ar-Rahman adalah adanya pengulangan satu ayat yang berbunyi "fabiayyi alaa i rabbikuma tukadziban" (Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?). Kalimat ini diulang berkali-kali dalam surat ini. Apa gerangan makna kalimat tersebut?
Surat ar-Rahman bagi saya adalah surat yang memuat retorika yang amat tinggi dari Allah. Setelah Allah menguraikan beberapa ni'mat yang dianugerahkan kepada kita, Allah bertanya: "Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?". Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah menggunakan kata "dusta"; bukan kata "ingkari", "tolak" dan kata sejenisnya. Seakan-akan Allah ingin menunjukkan bahwa ni'mat yang Allah berikan kepada manusia itu tidak bisa diingkari keberadaannya oleh manusia. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mendustakannya. Dusta berarti menyembunyikan kebenaran. Manusia sebenarnya tahu bahwa mereka telah diberi ni'mat oleh Allah, tapi mereka menyembunyikan kebenaran itu; mereka mendustakannya!
Bukankah kalau kita mendapat uang yang banyak, kita katakan bahwa itu akibat kerja keras kita, kalau kita berhasil menggondol gelar Ph.D itu dikarenakan kemampuan otak kita yang cerdas, kalau kita mendapat proyek maka kita katakan bahwa itulah akibat kita pandai melakukan lobby. Pendek kata, semua ni'mat yang kita peroleh seakan-akan hanya karena usaha kita saja. Tanpa sadar kita lupakan peranan Allah, kita sepelekan kehadiran Allah pada semua keberhasilan kita dan kita dustakan bahwa sesungguhnya ni'mat itu semuanya datang dari Allah.
Maka ni'mat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan!
Anda telah bergelimang kenikmatan, telah penuh pundi-pundi uang anda, telah berderet gelar di kartu nama anda, telah berjejer mobil di garasi anda, ingatlah--baik anda dustakan atau tidak--semua ni'mat yang anda peroleh hari ini akan ditanya oleh Allah nanti di hari kiamat!
"Sungguh kamu pasti akan ditanya pada hari itu akan ni'mat yang kamu peroleh saat ini" (QS 102: 8)

Berikan dan Lupakan

Suatu malam hujan turun dengan lebat diiringi angin kencang dan petir yang menyambar-nyambar. Malam itu telepon berdering di rumah seorang dokter. "Istri saya sakit," terdengar suara minta pertolongan. "Dia sangat membutuhkan dokter segera."
Si dokter menjawab, "Dapatkah bapak menjemput saya sekarang? Mobil saya sedang masuk bengkel." Mendengar jawaban itu, lelaki tersebut menjadi berang. "Apa?!" katanya dengan marah. "Saya harus pergi menjemput dokter pada malam yang berhujan lebat seperti ini?"
Coba Anda renungkan cerita inspiratif diatas.kita senantiasa meminta sesuatu kepada orang lain. Sayangnya, kita seringkali lupa untuk memberi. Kita tak sadar bahwa apapun yang kita berikan sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri, bukan untuk siapa-siapa.
Di dunia ini tak ada yang gratis. Segala sesuatu ada harganya. Seperti halnya membeli barang, Anda harus memberi terlebih dahulu sebelum meminta barang tersebut. Kalau Anda seorang penjual, Anda pun harus memberikan pelayanan dan menciptakan produk sebelum meminta imbalan jasa Anda. Inilah konsep "memberi sebelum meminta" yang sayangnya sering kita lupakan dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal "memberi sebelum meminta" adalah sebuah hukum alam. Kalau Anda ingin anak Anda mendengarkan apa yang Anda katakan, Andalah yang harus memulai dengan mendengarkan keluh kesah mereka. Kalau Anda ingin karyawan atau bawahan Anda bekerja dengan giat, Andalah yang harus memulai dengan memberikan perhatian, dan lingkungan kerja yang kondusif. Kalau Anda ingin disenangi dalam pergaulan, Anda harus memulainya dengan memberikan bantuan dan keperdulian kepada orang lain.

TUGAS SEORANG LELAKI (SEBAGAI SUAMI, AYAH SEKALIGUS IMAM DALAM RUMAH TANGGA)

Assalamu alaikum wr wb,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.

Ayat yang mulia ini merupakan perintah langsung dari Allah S.W.T agar setiap orang iman senantiasa berusaha menyelamatkan dirinya sendiri dari ancaman api neraka dengan cara mentaati peraturan-peraturan Allah dan menjauhi larangan-laranganNya, selain dari itu mereka juga diberi tanggung-jawab untuk senantiasa “amar ma’ruf nahi anil mungkar” kepada keluarga (terutama istri dan anak-anaknya) sebagaimana yang disabdakan Rasulullah S.A.W;

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، الحديث. رواه البخاري ومسلم
Dari Ibnu Umar, dari Nabi S.A.W sesungguhnya beliau bersabda; Ketahuilah bahwa setiap kalian adalah penggembala dan setiap kalian akan ditanya tentang gembalaannya, seorang amir yang memimpin manusia adalah penggembala dan dia akan ditanya tentang gembalaan (rukyah) nya, seorang lelaki (kepala rumah tangga) adalah penggembala atas keluarga rumahnya dan dia akan ditanya tentang mereka, dan orang perempuan adalah penggembala atas rumah serta anaknya suami dia akan ditanya tentang mereka… dst. HR. Al-Bukhari dan Muslim.

Jadi tugas seorang lelaki (sebagai suami dan ayah sekaligus imam di dalam rumah-tangga) kepada anggota keluarganya bukan hanya dalam urusan memberi tempat tinggal, makanan dan minuman saja, namun yang terpenting dan akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah Azza wa Jalaa adalah tugas mendidik mereka dalam urusan agama, termasuk menanamkan faham jamaah (wajibnya menetapi QHJ).

Khusus dalam mendidik anak; Hendaklah usaha mendidik mereka dengan ilmu agama dari sejak mereka masih kecil, pepatah Melayu mengatakan “Melentur buluh biarlah dari rebungnya” artinya mendidik anak dari sejak kecil dalam urusan agama akan lebih efektif jika dari sejak mereka masih mudah diarahkan (belum berani dan belum mampu untuk membangkang), hal ini sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah S.A.W kepada para orang tua agar mendidik anak untuk mengerjakan sholat sejak mereka berumur 7 tahun;

عَنْ سَبْرَةَ قَالَ، قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مُرُوا الصَّبِىَّ بِالصَّلاَةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا. رواه أبو داود و الترمذي واللفظ لأبي داود
Dari Sabrah dia berkata, Nabi S.A.W perintahlah anak kecil mengerjakan sholat ketika telah sampai umur 7 tahun, dan ketika telah sampai umur 10 tahun maka pukullah atas (tidak mau) mengerjakan sholat. HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi

Mendidik anak dengan penuh tanggung jawab adalah termasuk amal ibadah yang istimewa yang bisa membuat seseornag derajatnya tinggi di sisi Allah, contohnya adalah Luqman Al-Hakim, dia bukan seorang Nabi atau Rasul, bukan seorang Mujahid yang waktunya dihabiskan di medan peperangan membela agama Allah, bukan ulama besar, dia hanyalah seorang lelaki Habsiy yang berkulit hitam dan berprofesi sebagai An-Najjar (tukang kayu) tapi subhanallah derajatnya sungguh mulia di sisi Allah sehingga namanya di abadikan dalam Kitab suci Al-Qur’an menjadi nama dari surah yang ke 31, salah satu yang paling menonjol dari seorang Luqman Al-Hakim adalah nasehat-nasehatnya yang penuh hikmah yang dia tujukan khusus kepada anak lelakinya.

Sebaliknya jika tugas membimbing keluarga untuk mentaati peraturan Allah dan Rasul serta menjauhi larangan-larangannya tidak dipenuhi oleh seorang lelaki sebagai imam dalam keluarga, maka kelak anak dan istrinya yang saat ini (dalam kehidupan dunia) sangat disayangi dan dicintainya akan berbalik menjadi musuh utamanya yang bersungguh-sungguh berusaha mencelakakannya dan membuatnya haram (terhalang) masuk surga;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ، الآية. سورة التغابن: ١٤
Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya sebagian dari istri dan anakmu adalah musuh bagimu maka berhati-hatilah terhadap mereka.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنُ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ثَلاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمْ الْجَنَّةَ، مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالْعَاقُّ، وَالدَّيُّوثُ الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ. رواه أحمد
Dari Abdullah bin Umar, sesungguhnya Rasulullah S.A.W bersabda; tiga golongan yang Allah haramkan atas mereka untuk masuk surga; Orang yang membiasakan minum arak, orang yang durhaka (kepada orang tua) dan “dayuts” yaitu orang yang menyetujui (membiarkan) kejelekan/kemaksiatan di dalam keluarganya. HR. Ahmad

Semoga para lelaki (termasuk saya) senantiasa sadar dan ingat akan tugas berat dan amanah besar yang saat ini dipikulkan di bahunya dan kelak akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Tuhan semesta alam. Amiiin
[IM]

PENJAGAAN MANUSIA DARI PENGARUH JIN DAN SYETAN

Iblis dan anak-anaknya yaitu : Zalnabur, Tzabar, A'war, Maswath, Dasim dan tugas mereka dalam menyesatkan manusia, kemudian diterangkan pula macam-macam jin yang sebagian iman dan sebagian pengikut iblis dan anak turunnya, begitu pula tempat tinggal mereka ada yang di darat, di laut, di udara, di hutan-hutan, di jurang-jurang, di gunung-gunung, di lembah-lembah, di kota, di desa, di luar rumah, di dalam rumah, bahkan kemana kita pergi selalu ada yang mengikuti kita.

Dari sini dapat kita ketahui bahwa sebenarnya kita telah dikepung oleh mereka dari segala arah agar kita terpengaruh, akhirnya jadi orang sesat.
Untuk membentengi diri kita dari usaha iblis tersebut, perlu kiranya dalam kesempatan ini diterangkan lebih lanjut, tentang tekad iblis dan usaha-usahanya, sasaran mana yang dituju dan apa target yang hendak dicapai dan tahapan-tahapannya, kemudian bagaimana kita menangkal semua tipu dayanya dan lain-lain.

Iblis bertekad memenuhi sumpahnya dan benar apa yang menjadi sangkaannya. Iblis telah mengerahkan segala potensi yang ada melalui anak cucunya, melalui jin-jin kafir yang menjadi pengikutnya, manusia-manusia yang menjadi tentaranya ditunjang dengan perkembangan sarana dan prasarana serta semua perlengkapan yang memungkinkannya, denga tekad memenuhi sumpahnya di hadapan Allah Azza wa Jalla dengan keyakinan usahanya pasti berhasil memperdayakan manusia, maka pasti banyak yang masuk perangkapnya menjadi orang-orang fasiq, dholim, munafik dan kafir.

Allah berfirman : dalam surat saba' ayat 20
وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقاً مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya " Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang- orang yang beriman.

.....وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ سورة الأعراف 17
Artinya : ……"Dan tidak kamu dapati kebanyakan mereka menjadi orang-orang yang bersyukur."
قَالَ أَنظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ * قَالَ إِنَّكَ مِنَ المُنظَرِينَ * قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ * ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Artinya : " Berkata Iblis : Wahai Tuhan, berilah tempo (untuk menyesatkan manusia) sampai dengan hari qiyamat. Allah berfirman : engkau Iblis, termasuk orang yang diberi tempo, Iblis berkata : "sebab engkau telah menyesatkan aku, maka niscaya aku akan duduk untuk mereka di jalanmu yang lurus, kemudian sungguh aku akan datang kepada mereka dari hadapan mereka, dari kanan mereka, dari kiri mereka dan tidak kamu dapati kebanyakan dari mereka orang-orang yang bersyukur."

وَلأُضِلَّنَّهُمْ وَلأُمَنِّيَنَّهُمْ ....الأية سورة النسا 119
Artinya : "Dan sesungguhnya aku akan menyesatkan mereka dan memberi angan-angan kepada mereka"

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ * إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ * سورة الحجر 39-40
Artinya : "Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. kecuali hamba-hambaMu dari mereka yang murni."
Iblis mempunyai kesempatan menyesatkan manusia sangat lama, yaitu sampai datangnya hari qiyamat, berarti dihitung dari zaman Nabi Adam sampai sekarang, dia sudah mempunyai berjuta-juta pengalaman dalam hal menyesatkan manusia, dia sangat professional legih-lebih kalau kita memahami ayat-ayat diatas, maka mengetahui bahwa cara Iblis menjerumuskan Manusia ke lemba kesesatan itu dengan cara antara lain :

1. Semua jalan Allah diduduki Iblis
2. Iblis datang dari segala arah, dari muka, dari belakang, dari kiri kanan.
3. Iblis menghiasi amalan-amalan yang jelek supaya kelihatan baik, amalan-amalan yang jahat kelihatan biasa saja, amalan yang keji kelihatan memuaskan, menyenangkan, lezat, nikmat, sehingga banyak orang yang terpikat.
4. Iblis memberi angan-angan yang muluk-muluk atau harapan-harapan yang menyenangkan padahal kosong belaka.
5. Iblis menyesatkan melalui tempat-tempat vital dengan taktik strategi yang berdasarkan banyak pengalaman.

KEDUDUKAN HATI BAGI ANGGOTA BADAN DAN MASUKNYA IBLIS KE DALAMNYA

Hati secara fisik adalah organ tubuh yang bentuknya seperti buah nanas, organ tubuh yang paling penting untuk menggerakkan darah mengalir keseluruh tubuh.
الْقَلْبُ عَضْوٌ صَنَوْبِرِيُّ الشَّكْلِ مُوْدَعٌ فِـى الْجَانِبِ اْلأَيْسَرِ مِنَ الصَّدْرِ وَهُوَ أَهَمُّ أَعْضَاءِ الْحَرَكَةِ الدَّمَوِيَّةِ قاموس منجد
"Hati ialah organ tubuh yang berbentuk bulat nanas yang bertempat di dada sebelah kiri, ia merupakan anggota badan terpenting yang menggerakkan darah."
الْقَلْبُ مِنَ الْفُؤَادِ مَعْرُوْفٌ وَيُطْلَقُ عَلَى الْعَقْلِ وَجَمْعُهُ فُلُوْبٌ * فاموس المصباح المنير
"Qalbu dalam pengertian hati itu telah dikenal dan berlaku juga untuk akal dan jama'nya quhubun"
Ahli syair menyatakan:

هَلِ الْقَلْبُ إِلاَّ بِضْعَةٌ تَتَقَلَّبُ * لَهُ خَاطِرٌ يَرْضَ امِرَارًا وَيَغْضَبُ قاموس المصباح المنير
"Hati tiada lain hanya segumpal daging yang berbolak balik, dia telah mempunyai rasa senang dan amarah."
Adapun secara rohani, hati bagi anggota badan ibarat raja yang mengatur bala tentara, semua bersumber pada perintahnya, ia mendayagunakan anggota badan menurut yang dikehendakinya, semua tunduk dibawah kekuasaannya. Dari padanya diperoleh kabaikan, keteguhan dan lain-lain yang baik. Tetapi dari padanya pula diperoleh kejahatan-kejahatan, penyimpangan-penyimpangan dan semua yang jelek-jelek yang membawa kerusakan.

Bersabda Rosulullah Shollallahu 'alaihi wasallam :
Artinya : "ketahuilah sesungguhnya didalam tubuh itu ada segumpal daging, jika baik maka baiklah seluruh tubuh, jika rusak maka rusaklah seluruh tubuh, ketahuilah dia itu adalah hati"

Karena hati menjadi ukuran baik tubuhnya seseorang, maka sasaran iblis dalam menyesatkan manusia adalah menyerang hatinya lebih dahulu dengan bermacam-macam fitnah.

"Hudzaifah berkata: Aku mendengar Rosulullah Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda : diperlihatkan fitnah-fitnah kedalam hati seperti (menganyam) tikar, sehelai-sehelai, maka hati mana yang dicampuri fitnah, dititik didalamnya satu titik yang hitam dan hati mana yang mengingkari fitnah. Maka dititik didalamnya satu titik putih, sehingga fitnah menjadi ada pada dua hati yaitu ada hati yang putih seperti batu marmer, maka fitnah itu tidak membahayakan kepadanya selama ada langit dan bumi, dan hati yang lain hitam kelabu seperti kendi yang dibalik tidak mengenal yang baik dan tidak mengingkari yang mungkar kecuali apa-apa yang dicampur dari hawa nafsunya.'
Kerusakan/fitnah yang dilahirkan (oleh Iblis/syetan manusia) kedalam hati seseorang itu, seperti orang menganyam tikar sehelai-sehelai terus menerus sedikit demi sedikit tapi datang terus.

Dalam menerima fitnah hati dibagi dua :

1. Hati yang kalau didatangi fitnah di menerimanya menyedotnya seperti bunga karang menyedot air, lama-lama basah semua, begitu pula hati ketika menerima fitnah dititik hitam, kalau menerima terus hati itu hitam keseluruhannya, akhirnya hati tersebut tidak bisa membedakan mana yang ma'ruf dan mana yang mungkar.

2. Hati walaupun didatangi fitnah berkali-kali hati tetap menolak, inilah hati yang putih seperti batu marmer, putih bersih, di dalamnya ada lampu yang meneranginya, maka semakin banyak menolak fitnah semakin terang benderang cahaya lampunya, sehingga semua fitnah tidak membahayakannya.
Adapun fitnah yang masuk ke dalam hati antara lain ialah :

1. الشَهَوَاتِ فِتَنُ ialah keinginan-keinginanyang tidak bisa dikendalikan, seperti keinginan seorang untuk mendapatkan lawan jenisnya, sehingga timbul pelanggaran-pelanggaran sampai kepada pelanggaran had/zina.
2. فِتَنُ الشُبُهَاتِ fitnah kerancuan, serupa-serupa, tidak jalas apakah itu halal atau haram, syirik atau tidak, haq atau batal, semua rancau sehingga akhirnya yang haram dianggap halal, yang syirik dianggap tauhid, yang batal di anggap haq dan lain-lain.

3. فِتَنُ الغَيِّ وَالْضَّلاَلِ fitnah kesesatan bagi kita sudah jelas
Allah berfiman :
...فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ * سوراة يونس 32
Artinya : " Tidak ada sesudah haq kecuali sesat."

Ternyata kesesatan itu dimasukkan kedalam hati sedikit deki sedikit tanpa terasa, untuk itu kita harus teliti dan hati-hati.

4. فِتَنُ الْمَعَاصِى وَالْبِدَعِ finah pelanggaran-pelanggaran, kemaksiyatan-kemaksiyatan dan bid'ah –bid'ah yang bisa membawa kepada syirik dan kufur

5. فِتَنُ الظُّلْمِ وَالْجَهْلِ fitnah aniaya dan kebodohan. Hati jadi kejam, jahat, suka menganiaya karena kebodohan hati membabi buta.

Dari kenyataan diatas wajib bagi kita selalu meneliti hai sendiri, mengenal keadaanya, menasehati terus menerus, bahwa jika hati itu baik maka berbahagialah nanti di akhirat. Kalau hati rusak, celakalah nanti di hari qiyamat. Dan ketahuilah setiap bertambah iman didalam hati dan kuat ketaqwaannya maka bertambah cahaya yang meneranginya, sehingga bisa membedakan antara haq dan batal, hidaya dan kesesatan. Abu Alhudriyi meriwayatkan :
Yang artinya :

"Sesungguhnya Rosulullah Shollallahu 'alaihi wasallam berkata : hati itu ada empat macam : 1. Hati yang bersih, di dalamnya ada seperti lampu yang menerangi, 2. Hati yang tertutup yang diikat dengan tutupnya, 3. Hati yang dibalik, 4. Hati yang di lapisi. Adapun hati yang bersih adala hati orang mu'min di dalam ada cahaya lampu yang menerangi. Hati yang tertutup adalah hati orang kafir. Hati yang dibalik adalah hati orang munafik, dia mengerti yang haq kemudian dia mengingkarinya. Hati yang dilapisi adalah Hati yang didalamnya ada iman dan nifaq, maka perumpamaan iman dalam hati seperti tanaman sayuran yang tumbuh dan berkembang oleh karena air yang bersih, dan perumpamaan yang nifaq di dalam hati adalah seperti sebuah luka yang melebar oleh karena air nanah yang bercampur dengan darah, maka mana dua perkembangan (dua unsur) yang mengalahkan yang lain, maka dialah yang menang atas yang lain."

Dari keterangan diatas semakin jelas bagi kita, sesungguhnya tempat berputarnya amalan-amalan adalah bertumpuh pada hati. Anggota badan kita bisa melalakukan suatu perbuatan tidak ada lain kecuali karena digerakkan oleh hati, diperintah oleh hati. Jadi hati itu sumber segala gerak gerik, tingkah laku, uacapan dan perbuatan.
Maka kewajiban bagi kita untuk selalu meneliti hati kita, mengenal keadaan, menasehatinya, member pengertian bahwa baiknya hati itu menentukan kebahagiaan kita di akhirat nanti dan rusaknya hati kita itu membawa bencana yang tak berkesudahan di akhirat nanti.

Ketuhuilah sesungguhnya hati itu bisa di ibaratkan seperti sebuah benteng yang memiliki dinding tembok, di dalam tembok itu ada pintu dan jendela. Adapun yang bertempat tinggal didalamnya adalah akal. Malaikat berbolak balik datang ke dalam benteng, di dekat benteng ada sebuah kandang di dalamnya ada hawa nafsu dan syetan. Terjadilah perselisihan tanpa bisa dicegah, pertempuran antara penghuni benteng dengan penghuni kandang berkobar, syetan-syetan tidak henti-hentinya mengelilingi benteng mencari kelengahan penjaga (akal) dan mencari celah-celah yang dia bisak masuk ke dalamnya, maka dari itu sudah semetinya bagi seorang penjaga harus mengetahui semua pintu-pintu benteng yang diserahkan kepadanya untuk dijaga. Begitu pula harus mengetahui jendela-jendela benteng jangan sampai penjaga lengah walaupu sekejap mata, karena musuh tidak akan tinggal diam.

Ada seorang bertanya kepada Hasan Al Basri (perowi Hadits), "Apakah Iblis tidur?" Jawabnya, "Jika Iblis tidur, maka pasti kami menemui ketenangan" Benteng ini terang benderang dengan dzikir, mencorong dengan iman, di dalam ada cermin yang mengkilap yang dengannya bisa diketahui apa saja dan siapa saja yang lewat di sekeliling benteng, maka pertama kali yang dilakukan syetan adalah membuat asap yang tebal dalam kandang agar tembok benteng itu hitam, cermingnya kotor tidak bisa melihat apa saja dan siapa saja yang lewat di sekeliling benteng.

Musuhpun datang masuk ke dalam benteng tetapi kadang-kadang penjaganya datang, maka musuhpun pergi keluar dari benteng. Tetapi kadang-kadang penjaga lengah musuh bisa masuk merusak benteng, melukai penjaga, membelenggunya, menahannya dan memperbudaknya. Kemudian musuh bertempat tinggal dalam benteng mamasang jebakan-jebakan yang cocok dengan hawa nafsunya akhirnya jadilah dia seperti seorang yang mahir melakukan kejahatan-kejahatan.

Dan sekuat-kuatnya belenggu yang digunakan membelenggu penjaga adalah kebodohan, dan yang cukupan kuatnya adalah hawa nafsu, dan yang selama-lamanya adalah kelalaian. Tetapi selama baju besi iman masih ada pada orang mu'min, panah musuh tidak akan mengenainya dalam pertempuran.

Al A'mas perna bercerita : telah menceritakan kepadaku orang yang berbicara dengan jin, mereka (jin) berkata, "yang paling berat bagi kami adalah (menggoda) orang yang mengikuti sunnah, dan yang paling mudah kami permainkan adalah orang yang mengikuti hawa nafsu."

Ketahuilah sesungguhnya syetan itu tidak masuk kecuali ke dalam hati yang kosong dari dzikir, taqwa, mukhlis dan yakin, maka dia memasukkan gangguan lantas dia bertempat di dalamnya. Celakanya lagi kalau hati yang di tempatinya itu berisi hawa nafsu dan syawat dimana kedua-duanya adalah kesenangan syetan, maka sulit untuk bisa menolaknya.
[ MNA]

Renungan Kita

Kita hidup di dunia ini,Ibaratnya kita sebagai tamu Allah. Kita lahir dalam keadaan telanjang dan tak membawa sehelai benang pun. Kemudian kita bisa hidup karena dicukupi dengan suguhan berbagai karunia dan rizki- Nya. Cukup makan, sandang dan papan. Pada saat kita berlebih, Allah memerintahkan kita bersedekah dan berbagi kepada hamba- hamba- Nya yang lain yang belum kebagian seperti kita.

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. (QS. Ibrahim [14]: 31)

Bila hamba-Nya itu mau berbagi, akankah Allah membiarkan mereka itu terlantar sia-sia di dunia ini? Sama sekali tidak. Allah Maha Melihat, dan Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik. Bukankah Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya?

Sesungguhnya kalian akan diberi pertolongan dan akan diberikan rizki oleh Allah SWT, manakala kalian mau menolong dan berpihak, membantu, serta mau memberikan kepada orang-orang yang lemah dan menderita dalam kehidupannya. (Hadits Riwayat Muslim).

Saat kita memberi, secara psikis Allah telah melepaskan jiwa ini dari belenggu cinta dunia. Jiwa ini merdeka dari perbudakan harta. Secara sosial, didekatkan hati-hati sesama saling kasih sayang dan senyum yang menyegarkan jiwa ini.

Andai roda kehidupan sedang berputar ke bawah, seorang yang suka berbagi pun tak akan berlarut dalam kesulitan terlalu lama. Sebab pintu-pintu pertolongan Allah terbuka lebar lewat berbagai jalan. Buah dari sukanya berbagi itu, akan mengundang demikian banyak orang yang dengan senang hati menolongnya. Hal yang tak akan dinikmati oleh seorang yang bakhil.

Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Abu Darda, bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya, “Inginkah kalian mendapatkan dua hal, yakni mendapatkan ketenangan batin dan kebahagiaan yang hakiki, serta terpenuhinya segala kebutuhan hidup kalian?”

Para sahabat menjawab: "Benar ya Rasul, kami menginginkan hal itu.” Rasul pun menjawab: “Sayangilah anak-anak yatim; usaplah kepalanya (bertanggung jawab serta memperhatikan kehidupan mereka), dan berilah makanan dari sebagian makanan yang kalian makan (untuk para dhu'afa dan fakir miskin); maka pasti kalian akan mendapatkan ketenangan batin dan kebahagiaan yang hakiki, serta terpenuhi kebutuhan kalian.”

Sungguh alangkah indahnya hidup orang yang telah mendapat jaminan keberlimpahan ketenangan lahir dan batin.Ya Allah berkahilah rizki hamba. Berikan kekuatan tangan ini untuk berbagi.

Kaya Dengan Menikah

Lebih dari 1400 tahun yang lalu telah turun ayat :

(وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ)

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan.Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya.Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. ( An-nur : 32 )

Ayat ini menegaskan bahwa pernikahan dapat menjadi penyebab kekayaan berdasarkan firman Allah :

“Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya.Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”

Tetapi sebagian orang jahiliyah dahulu, karena mereka takut miskin, mereka membunuh dan atau mengubur anak-anak gadis mereka. Oleh karena itu turunlah firman Allah ta’ala :

(وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا)

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”. ( Al-Israa : 31 )

Maka dalam ayat ini terdapat jaminan dari Allah tentang rizki anak dan orangtua.

Sangat wajar bahwa kita semenjak dahulu tidak tahu bahwa ayat ini menyimpan satu mukjizat ilmu, karena seorang yang beriman dia beriman dan yakin kepada kebenaran ayat ini dan tidak ragu bahwa Allah mampu memberi rizki untuknya. Tapi orang yang lemah imannya akan bertanya – tanya : “Darimana Allah memberi saya rizki ?”, Kapan dan bagaimana ?”
Dan adapun para ateis, mereka tidaklah percaya dan tidak yakin dengan ayat ini, yang ia percayai adalah bahwa pernikahan atau anak-anak merupakan masalah ekonomi. Oleh karena itu kita dapati bahwa orang-orang barat sangat bersandar dengan doktrin ini dan membatasi keturunan dengan satu atau maksimal dua anak saja.Tapi, tak seorang pun membayangkan dan berfikiran bahwa dengan hanya sekedar menikah, bahwa itu sudah menjadi sarana untuk menambah pendapatan dan penghasilan.
Majalah Time Amerika pernah melakukan penelitian di Ohio State University, yang menunjukkan bahwa orang – orang yang telah menikah dan punya anak, pendapatan mereka naik sebesar 16 persen per tahun, berbeda dengan orang – orang yang belum menikah dimana pendapatan mereka hanya naik 8 persen pertahun.
Dalam penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa manfaat dari pernikahan tidak terbatas hanya pada manfaat yang diketahui sebelumnya dan yang berhubungan dengan rasa ketentraman, tetapi juga untuk pengurangan jumlah kemiskinan di masyarakat.
Dua orang peneliti, yaitu Maria Kanchin, peneliti dari University of Wisconsin, dan Deborah Reed, direktur penelitian di Pusat Penelitian Politik Matematika, telah melakukan sebuah penelitian yang diterbitkan dalam buku "Perubahan Kemiskinan Perubahan Politik", yang membahas tentang rendahnya angka perkawinan dan tingginya tingkat perceraian serta dampaknya terhadap tingkat kemiskinan.
Penelitian menunjukkan bahwa jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan di Amerika Serikat akan naik 2,6 persen karena tingginya kasus perceraian, disamping juga kedua peneliti mendapatkan kesimpulan bahwa wanita yang sudah menikah memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan untuk menambah pendapatan daripada yang belum menikah.
Studi juga menunjukkan bahwa kehadiran suami atau istri di rumah, bisa menambah semangat keduanya, yang menyebabkan produktivitas yang lebih besar bagi mereka dan dengan demikian meningkatkan pendapatan dari pekerjaan mereka.
Penelitian ini menyarankan penyediaan tempat untuk penitipan anak-anak di lingkungan kerja, yang mana hal ini akan mendorong perempuan yang belum menikah untuk melakukan metode dan langkah ini, tanpa khawatir terhadap anak-anak mereka, atau menganggap bahwa anak – anak mereka sebagai hambatan bagi perkembangan karir mereka.
Ini menunjukkan bahwa pernikahan adalah sarana untuk meningkatkan pendapatan, dan ini fakta ilmiah dan bukan hanya omong kosong!
Dari sini kita bisa menyadari bahwa ayat yang mulia ini mengandung sebuah mukjizat ilmu.
Siapakah gerangan yang mengabarkan kepada Nabi bahwa nikah bisa menjadi penyebab seseorang menjadi kaya ? Dialah Allah yang telah berfirman :

إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ

“Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya.”. ( An-nur : 32 )

Oleh karena itu, Nabi mengingkari orang yang ingin terus membujang dan tidak menikah seraya beliau bersabda :

(النكاح من سنتي فمن لم يعمل بسنَّتي فليس مني) [السلسلة الصحيحة للألباني]

“Nikah termasuk Sunnahku, barangsiapa yang tidak melaksanakan Sunnahku maka bukanlah termasuk golonganku” ( Silsilah Shahihah oleh Albani )

Ketika Dosa kita seluas padang pasir

Wahai poro sedulur,Pernahkah kita menghitung dosa yang kita perbuat dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun bahkan sepanjang usia kita?
Andaikan saja kita bersedia menyediakan satu kotak kosong, lalu kita masukkan semua dosa-dosa yang kita lakukan, kira-kira apa yang terjadi? Saya menduga kuat bahwa kotak tersebut sudah tak berbentuk kotak lagi, karena tak mampu menahan muatan dosa kita.
Allah berfirman dalam Surat az-Zumar [39]: 53 "Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Indah benar ayat ini, Allah menyapa kita dengan panggilan yang bernada teguran, namun tidak diikuti dengan kalimat yang berbau murka. Justru Allah mengingatkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Allah pun menjanjikan untuk mengampuni dosa-dosa kita.
Karena itu, kosongkanlah lagi kotak yang telah penuh tadi dengan taubat pada-Nya.Kita kembalikan kotak itu seperti keadaan semula, kita kembalikan jiwa kita ke pada jiwa yang fitri dan nazih.
Jika anda mempunyai onta yang lengkap dengan segala perabotannya, lalu tiba-tiba onta itu hilang. Bukankah anda sedih? Bagaimana kalau tiba-tiba onta itu datang kembali berjalan menuju anda lengkap dengan segala perbekalannya? Bukankah Anda akan bahagia? "Ketahuilah," kata Rasul, "Allah akan lebih senang lagi melihat hamba-Nya yang berlumuran dosa berjalan kembali menuju-Nya!"
Allah berfirman: "Dan kembalilahh kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)." (QS 39:54)
Seperti onta yang sesat jalan dan mungkin telah lenyap dipadang pasir, mengapa kita tak berjalan kembali menuju Allah dan menangis di "kaki kebesaran-Nya" mengakui kesalahan kita dan memohon ampunNya...
Wahai Alloh Yang Kasih Sayang-Nya lebih besar dari murka-Nya, Ampuni kami Ya Allah!

Minggu, 27 Februari 2011

KHUTBAH RASULULLAH SAW KETIKA HAJI WADA’ (PERPISAHAN)

Berikut ini adalah Khutbah Rasulullah S.A.W ketika Haji Wada’ (bertepatan pada tanggal 9 Dzul Hijjah tahun 10 H) yang pertama dan terakhir beliau lakukan di dalam Islam sekaligus sebagai Khutbah perpisahan kepada umat yang dicintai dan mencintainya, sengaja saya beri judul topik dengan tujuan agar pembaca memudah memahaminya

MUQADDIMAH BELIAU S.A.W
الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Segala puji bagi Allah kami memuji dan mohon pertolongan kepadaNya, dan kami mohon ampun kepadaNya serta bertaubat kepadaNya, dan kami berlindung dari kejahatan diri kami dan kejelekan amal kami, barang siapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkanNya maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Dan aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah dengan esaNya dan tiada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad S.A.W adalah hamba dan utusanNya.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ، بِتَقْوَى اللهِ وَأَحْثَكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ، وَأَسْتَفْتِحُ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ، أَمَّا بَعْدُ :
Aku berpesan kepada kalian, wahai hamba-hamba Allah agar bertaqwa kepada Allah dan aku mengajak kalian untuk taat kepadaNya, dan aku akan memulai dengan yang terbaik. Adapun selanjutnya :

KEHARAMAN DARAH DAN HARTA SESAMA UMAT ISLAM.
أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ إِلَى أَنْ تَلْقَوْا رَبَّكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِى شَهْرِكُمْ هَذَا فِى بَلَدِكُمْ هَذَا.
Wahai manusia, sesungguhnya darah kalian dan harta kalian haram atas kalian hingga kalian bertemu Tuhan kalian (hari Kiamat) seperti keharaman hari kalian ini, di bulan kalian ini, di negri kalian ini.

أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ .... ؟ اَللَّهُمَّ اشْهَدْ.
Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikan … ? Ya Allah saksikanlah.

فَمَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ أَمَانَةٌ فَلْيُؤَدِّهَا إِلَى مَنِ ائْتَمَنَهُ عَلَيْهَا.
Maka barang siapa yang menanggung amanah maka hendaklah disampaikan kepada yang memberinya amanah tersebut.

PEMBATALAN SENGKETA / PERMASALAHAN JAHILIYAH
وَإِنَّ رِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ، وَإِنَّ أَوَّلَ رِبًا أَبْدَأُ بِهِ رِبَا عَمِّي عَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ.
Dan riba jahiliyah dibatalkan dan riba jahiliyah yang pertama kali aku batalkan adalah riba pamanku Abbas bin Abdil Mutthalib.

وَإِنَّ دِمَاءَ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعَةٌ، وَإِنَّ أَوَّلَ دَمٍ أَبْدَأُ بِهِ دَمُ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
Dan dendam pertumpahan darah jahiliyah juga dibatalkan, dan sesungguhnya dendam pertumpahan darah jahiliyah yang pertama kali aku batalkan adalah darah Amir bin Rabi’ah bin Al-Harits bin Abdil Mutthalib.

وَإِنَّ مَآثِرَ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعَةٌ غَيْرَ السَّدْنَةِ، وَالسِّقَايَةِ، وَالْعَمْدُ قَوَدٌ، وَشَبَّهَ الْعَمْدَ مَا قُتِلَ بِالْعَصَا وَالْحَجَرَ وَفِيهِ مِائَةُ بَعِيرٍ، فَمَنْ زَادَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ.
Dan sesungguhnya pilih kasih (hak istimewa) zaman jahiliyah dibatalkan selain hak melayani (mentadbir Ka’bah), dan memberi minum (air zamzam) kepada orang Haji, dan pembunuhan yang sengaja harus diqishah dan yang menyerupainya adalah pembunuhan menggunakan kayu atau batu, dan di dalam urusan itu bisa digantikan dengan denda 100 unta, barang siapa (wali yang dibunuh) minta tambah maka dia termasuk orang jahiyah.

PERINGATAN AGAR WASPADA DARI TIPU DAYA SETAN
أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَئِسَ أَنْ يُعْبَدَ فِي أَرْضِكُمْ هَذِهِ، وَلَكِنَّهُ قَدْ رَضِيَ أَنْ يُطَاعَ فِيمَا سِوَى ذَلِكَ مِمَّا تُحْرِقُونَ مِنْ أَعْمَالِكُمْ.
Wahai manusia! Hari ini setan telah putus asa untuk dapat disembah di bumi kalian (Mekah) ini. Tetapi, ia akan bangga jika ditaati (diikuti) pada perbuatan selain itu (menyembah setan) dari perkara yang kalian anggap remeh dari amal kalian !

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا، لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللهُ.
Wahai manusia! Sesungguhnya perbuatan menunda-nunda adalah menambah di dalam kekafiran, orang-orang kafir disesatkan oleh perbuatan itu, mereka menghalalkan (pada bulan haram) setahun dan mengharamkannya setahun (dengan tujuan) agar mencocoki hitungan (bulan) yang diharamkan oleh Allah maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah.

Hikmah : Perbuatan menunda kebaikan hanya akan menyebabkan seseorang bertambah kekufurannya.

وَإِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ، "إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ" ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ، وَوَاحِدٌ فَرْدٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وذُو الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرٌ، اَلَّذِي بَيْنَ جُمَادَىْ وَشَعْبَانَ.
Wahai manusia! Sesungguhnya zaman itu beredar sejakAllah menjadikan langit dan bumi “Sesungguhnya hitungan bulan di sisi Allah adalah 12 bulan di dalam Kitab Allah (sejak) Allah menciptakan langit dan bumi diantaranya ada 4 bulan haram, 3 bulan berturut-turut dan yang satu bulan terpisah; Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab Mudhar yang terletak diantara bulan Jumadil (Akhir) dengan Sya’ban.

أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ .... ؟ اَللَّهُمَّ اشْهَدْ.
Ingatlahh bukankah aku telah menyampaikan …. ? Ya Allah saksikanlah.

HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI-ISTRI
أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ لِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا، وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ حَقٌّ.
Adapun selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya bagi istri kalian mempunyai hak yag (wajib) atas kalian, dan kalian juga punya hak yang (wajib) atas mereka.

لَكُمْ أَنْ لاَ يُوَاطِئْنَ فُرُشَهُمْ غَيْرَكُمْ، وَلاَ يَدْخُلْنَ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ بُيُوتَكُمْ إِلاَّ بِإِذْنِكُمْ، وَلاَ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ، فَإِنْ فَعَلْنَ فَإِنَّ اللهَ قَدْ أَذَنَ لَكُمْ أَنْ تَعْضُلُوهُنَّ وَتَهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعَ وَتَضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ، فَإِنِ انْتَهَيْنَ وَأَطَعْنَكُمْ فَعَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ،
Hak kalian adalah; Jangan sampai mereka (istri) membolehkan orang menginjak alas tidur mereka selain kalian, dan mereka tidak boleh membawa masuk ke rumah kalian orang yang kalian benci melainkan atas izin kalian, dan mereka tidak boleh melakukan tindakan keji (tidak taat dan tidak setia) jika mereka melakukannya maka sesungguhnya Allah telah memberi izin kepada kalian untuk memisahi mereka di tempat tidur, dan memukul mereka dengan pukulan yang tidak mencederakan, jika mereka telah berhenti (bertaubat) dan taat kepada kalian, maka wajib atas kalian memberi rizki (nafkah) dan pakaian kepada mereka bilma’ruf (sepantasnya).

وَإِنَّمَا النِّسَاءُ عِنْدَكُمْ عَوَانٌ، لاَ يَمْلِكْنَ لأَنْفُسِهِنَّ شَيْئًا، وَإِنَّكُمْ إِنَّمَا أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانَةِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ فِي النِّسَاءِ وَاسْتَوْصُوا بِهِنَّ خَيْرًا.
Dan sesungguhnya perempuan (istri) di sisi kalian ibarat tawanan, mereka sedikitpun tidak berkuasa atas diri mereka sendiri, dan sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menjadikan farji mereka halal (untuk kalian) dengan kalimat Allah bertaqwalah kalian kepada Allah di dalam urusannya perempuan (istri), dan nasehatlah dengan baik kepada mereka.

أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ ....؟ اَللَّهُمَّ اشْهَدْ.
Ketahuilah bukankah aku telah menyampaikan ….? Ya Allah saksikanlah.

ORANG IMAN ADALAH BERSAUDARA
أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ وَلاَ يَحِلُّ لامْرِئٍ مَالٌ لأَخِيهِ إِلاَّ عَنْ طَيِّبِ نَفْسٍ مِنْهُ.
Wahai manusia, Sesungguhnya orang-orang iman adalah bersaudara, dan tidak halal bagi seseorang harta saudaranya kecuali disertai enak (ridhanya) diri.

أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ ....؟ اَللَّهُمَّ اشْهَدْ.
Ketahuilah bukankah aku telah menyampaikan ….? Ya Allah saksikanlah.

فَلاَ تَرْجِعَنَّ بَعْدِى كَافِرًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.
Janganlah kalian setelah (wafat)ku kembali kafir, sebagian kalian memukul leher (membunuh) sebagian yag lain.

PERINTAH AGAR BERPEGANG TEGUH KEPADA AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH.
فَإِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ : كِتَابَ اللهِ.
Dan sungguh telah aku tinggalkan di kalangan kalian yang kalian tidak akan tersesat jika berpegang teguh dengannya yaitu : Kitab Allah (Al-Qur’an).

NOTE : DALAM RIWAYAT MALIK KALIMATNYA :
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ.
Telah aku tinggalkan di kalangan kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selagi berpegang teguh pada keduanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabinya.

أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ ....؟ اَللَّهُمَّ اشْهَدْ.
Ketahuilah bukankah aku telah menyampaikan ….? Ya Allah saksikanlah.

NOTE : TAMBAHAN DI DALAM RIWAYAT AHMAD;
قَالُوا : نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ. فَقَالَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيَنْكُتُهَا إِلَى النَّاسِ : اللَّهُمَّ اشْهَدِ، اللَّهُمَّ اشْهَدْ. ثَلاَثَ مَرَّاتٍ.
Mereka menjawab : Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan dan telah mendatangkan serta nasehat (menyempurnakan risalah), maka Nabi mengangkat jari telunjuknya ke arah langit dan menunjukkan ke arah manusia seraya bersabda : Ya Allah saksikanlah, beliau ulang hal itu hingga tiga kali.

YANG MEMBUAT MANUSIA MULIA DI SISI ALLAH ADALAH KETAQWAANNYA
أَيُّهَا النَّاسُ، أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ، وَلاَ لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلاَ لأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى.
Wahai manusia, ingatlah sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, bapak kalian itu satu, ingatlah tidak ada keutamaan orang Arab mengalahkan orang A’jam (non Arab), dan tidak ada keutamaan orang A’jam mengalahkan orang Arab, dan tidak ada keutamaan orang kulit merah mengalahkan orang kulit hitam, tidak ada keutamaan orang kulit hitam mengalahkan orang kulit merah, melainkan dengan sebab ketaqwa’an.

أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ ....؟ اَللَّهُمَّ اشْهَدْ. قَالُوا : نَعَمْ، قَالَ : فَلْيُبَلِّغْ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ.
Sudahkah aku menyampaikan… ? ya Allah saksikanlah, mereka menjawab; ya, beliau bersabda hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.

PENUTUP : PENJELASAN TENTANG WARIS, WASIAT DAN KEPEMILIKAN.
أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ قَدْ قَسَمَ لِكُلِّ وَارِثٍ نَصِيبَهُ مِنَ الْمِيرَاثِ، وَلاَ يَجُوزُ لِوَارِثٍ وَصِيَّةٌ، وَلاَ يَجُوزُ وَصِيَّةٌ فِي أَكْثَرَ مِنْ ثُلُثٍ، وَالْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ.
Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah membagi bagi setiap ahli waris bagiannya masing-masing dari harta waris, dan tidaka ada wasiat bagi ahli waris, dan wasiat tidak boleh lebih dari 1/3, anak adalah untuk “alas” (ibu) sedangkan bagi pezina adalah batu (hukum ranjam).

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلاَ عَدْلٌ.
Barang siapa yang mengaku pada selain bapaknya atau mengaku hamba selain hambanya maka berat atasnya laknat Allah dan Malaikat serta manusia semuanya, tidak diterima darinya ibadah sunnah dan ibadah wajib.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
Dan semoga keselamatan dan rahmat Allah tetap atas kalian.

Setelah itu di tempat yang sama dan jarak waktu yang tidak lama baginda medapat wahyu berupa ayat ;
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا.
Hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan aku sempurnakan atas kalian nikmat-nimatKu, dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian. QS. Al-Maidah : 3

Kira-kira tiga bulan setelah khotbah yang sangat monumental tersebut. kemudian Baginda memenuhi panggilan kekasih sekaligus Tuhan yang telah mengutusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam, shalawat dan salam semoga tetap atasnya.

REFERENSI;
Rangkaian Khotbah Wada’ tersebut, saya susun dari salinan kitab : Khutbu Ar-Rasul S.A.W (Muhammad Khalil Al-Khatib) dan disesuaikan dengan petikan-petikan Hadits-Hadits Shahih; Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Muwatta’ Malik. Sunan Abu Dawud, dan Musnad Ahmad.
[IM]

Jama'ah

Dasar Menetapi Jama’ah :
Apa yang dimaksud dengan Ahli Sunnah Wal Jama’ah Versi Qur’an Hadist (bukan versinya pendapat).
Ahli Sunnah adalah Orang yang dalam praktek ibadahnya sesuai dengan Qur’an Hadist, tidak di campuri bid’ah, qurafat, takhayul, sirik.
Adapun maksud Jama’ah secara Umum adalah Suatu perkumpulan yang ada Pimpinan/Imam dan ada yang di pimpin atau Ro’yah atau Makmum, contoh ; Jama’ah Sholat.
dan Pengertian Jama’ah secara Qur’an Hadist juga demikian, sesuai dengan sabda Rosulluloh Saw.
Ma ana ‘alaihi wa Ash-haabi
Artinya : “Aku Nabi berada di Atasnya bersama-sama dengan para Sahabatku”. yang maksudnya Nabi berada diatas itu Sebagai Pemimpin dan Sahabat sebagai orang yang di Pimpin.
bukan seperti pemahamannya orang yang mengaku dirinya Salafi bahwa pengertian Hadist tersebut : ” yang mengikuti Sunnahku dan Sunnah Sahabatku”. Sebab tidak ada dalil satupun yang mengharuskan mengikuti Sunnah Sabahat kecuali Khulafaur Rosyidin (Abubakar, Umar, Ustman, Ali) yang sudah mendapat lisenci dari Alloh dan Rosul.
Sekarang saya jelaskan secara terperinci Dalil-dalil yang mengharuskan menetapi Jama’ah :
Qs. AlImron 19
ان الدين عند الله الأسلم
Artinya:”Sesungguhnya agama yang di ridhoi Alloh adalah agama islam”
Ini adalah dasar kita memilih islam sebagai agama .
Qs. Al-Imron 102
يايها الذين امنو ااتقو االله حق تقته ولاتموتن الا وانتم نسلمون
Artinya : “Hai Orang-orang yang beriman takutlah kamu pada Alloh dan jangan mati kamu sekalian kecuali mati dalam keadaan Islam
Qs. Al-Imron 103
واعتصمو بحبل الله جميعا ولا تفرقوا …….الايه
Artinya : “Berpegang teguhlah pada tali Alloh (Agama Islam) dengan semua (berjama’ah) dan jangan berpecah belah ….“.
maksud dari ayat tersebut adalah dalam menetapi islam kita di larang berpecah belah / harus bersatu, bersatu yang dimaksud adalah dengan cara berjamaah. ayat-ayat tersebut adalah bahasa Qur’an / Bahasa Alloh.
Sekarang kita bahas Hadist-Hadist yang memperkuat ayat tersebut :
Sabda Rosulluloh Saw.
عليكم بالجماعة واياكم والفرقة * رواه ترمذي
Artinya :”Menetapilah kalian pada Jama’ah dan Jauhilah ber firqoh-firqoh”. maksudnya Nabi memerintahkan kita dalam mentapi islam jangan sampai berpecak belah carannya dengan berjamaah.
تلزم جماعة المسلمين وامامهم * رواه البخار
Artinya :”Menetapilah kamu pada Jama’ahnya orang islam dan Imam mereka”.
Kesimpulan :
  • Menetapi Jama’ah adalah perintah Alloh Rosul atau sesuatu yang harus di tetapi, dan Jama’ah bukan metode seperti pemahaman orang-orang yang mengaku dirinya Salaf. sekali lagi menetapi Jama’ah itu hukumnya wajib.
  • Jama’ah yang dimaksud di sini bukan Jama’ah Sholat, Jama’ah Haji, Jama’ah Yassin, Jama’ah Tahlil, tetapi pengertian Jama’ah disini adalah bentuk aslinya Islam yaitu dalam mentapi Islam Harus dengan cara berJama’ah. yangmana dalam menetapi islam harus punya pengatur atau Imam. dan perlu di ingat Imam atau pengatur yang dimaksud di sini bukan Imam Sholat juga bukan pemimpin suatu negara/daerah seperti yang di maksud orang-orang yang mengaku dirinya golongan Salaf. tetapi pengatur / pemimpin disini adalah pemimpin islam yang berlandaskan hukum-hukum Qur’an Hadist sesuai dengan Dalilnya :
السلطان ظل الله في الأرض… * طب هب عن أبي بكر
Artinya : “Pengatur /Imam itu Naungannya Alloh di Bumi”. Maksudnya pengatur di sini adalah pemimpin agama (bukan pemimpin kerajaan) yang menegakkan hukum-hukum Alloh Rosul.
dalam Qs. Annisa’ 59 diterangkan :
يأيها الذين ءامنو اأطيعوا الله وأطيعو الرسول وأولى الأمر منكم ….الأية
Artinya : “Wahai orang-orang beriman Thoatlah kalian kepada Alloh dan Thoatlah kalian pada Rosul dan kepada orang yang mempunyai perkara (agama) dari kalian…”. ayat ini menerangkan orang-orang iman di suruh Thoat pada Alloh, Rosul, dan Pengatur Agama (Imam/Amir), bukan seperti pendapat orang yang mengaku dirinya Salaf yaitu memahami arti pengatur sebagai pengatur negara/kerajaan. dan diperkuat Sabda Rosulluloh tertera di dalam:
HR. Muslim Kitabul Imaroh : “Barang siapa Thoat Aku (Nabi), maka sungguh-sungguh Thoat Alloh, dan Barang siapa yang menentang Aku(Nabi), maka sungguh-sungguh menentang Alloh, dan barang siapa thoat Amir, maka sungguh thoat padaku (Nabi), dan barang siapa menentang Amir, maka sungguh-sungguh menentang padaku (Nabi).

Hasil Menetapi Jama’ah :

keterangan hasil menetapi Jama’ah di sebutkan dalam HR. Termidzi :
من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجما عة * رواه ترمذي
Artinya : “Barang siapa yang menghendaki pada tengah-tengah surga (masuk surga), maka tetapilah Jama’ah”.
dan Nabi bersabda HR. Termidzi :”Tangan Alloh (pertolongan Alloh) beserta orang-orang Jama’ah, barang siapa yang keluar (dari Jama’ah) maka keluarnya menuju neraka”.

pada HR. Tobroni : “Barang siapa yang beramal dengan niat karena Alloh di dalam Jama’ah lalu benar, maka Alloh menerima amalan orang itu dan jika salah maka Alloh mengampuninya, dan barang siapa yang beramal dalam fir’qoh (tidak Jama’ah) l walaupun benar, maka Alloh tidak menerima pengamalannnya, dan jika salah hendaklah orang itu bertempat di neraka”.

tauhid sesungguhnya

Ada yang bertanya, lebih tepatnya mengejek: "Mengapa ketika pertama kali memulai dakwah H. Ubaidah itu lebih memfokuskan pada dakwah al jamaah? Mengapa tidak mementingkan dakwah tauhid?." Mari kita telisik bersama, apakah pertanyaan tersebut masuk ke dalam kategori pertanyaan bodoh atau pertanyaan berkualitas.

H. Ubaidah sebagai ulama yang pertamakali menyebarkan dakwah Qur'an Hadis secara murni, karena berdasarkan Quran Hadis dengan berbekal sanad yang sahih dan mutashil, melewati berbagai macam rintangan, cobaan, bahkan percobaan pembunuhan dari kerabatnya sendiri yang ketika itu masih menganggap bahwa apa yang dibawanya adalah ajaran baru dan menyimpang dari ajaran para ulama kebanyakan (mainstream). Bukan main main, dalam mengarungi samudera rintangan ini beliau beramar makruf dan melakukannya seorang diri. Dengan berbekal keyakinan atas janji pertolongan Allah, ia lakoni semua teori dakwah islamiyah, yang pada akhirnya menurut bahasa modern tidak lain adalah teori HOW TO WIN FRIEND.

Dakwah 'ekstrim' apa adanya sudah dilaluinya. Banyak saksi sesepuh jamaah yang bercerita bahwa dahulu H. Ubaidah pernah mengalami tidak jadi menikah karena calon mertua marah besar gara gara ia melepaskan burung burung yang dipelihara oleh calon mertua dari sangkarnya. Beliau menganggap calon mertuanya adalah orang yang menganiaya binatang. Pernah pula suatu hari di pasar ia naik ke atas pohon dan berteriak untuk mengumpulkan manusia disana. Setelah orang orang berkerumun di bawahnya, ia memulai dakwah yang bertema bahwa Qur'an Hadits adalah satu satunya jalan masuk surga selamat dari neraka. Hasilnya? semua orang bubar dan sebagai hadiahnya, ia dianggap orang tidak waras. Pernah juga suatu kali karena ia mendapat porsi nasehat di kalangan ulama, ia berceramah bagaimana Qur'an Hadis itu harus jadi pedoman ibadah umat islam. Bukan malah membesar besarkan kitab kuning, kitab karangan yang pada akhirnya menjerumuskan pada amal yang bid'ah dan syirik. Dari saksi diketahui bahwa pada saat itu beliau berdakwah tanpa tendeng aling aling. Sampai ia berkata bahwa ulama yang tidak mau menerima dan mengutamakan kebenaran Qur'an Hadis adalah ulama khianat atau ulama bodoh. Semua kuping ulama yang hadir pada waktu itu merah padam dibuatnya. Akhir dari cerita sudah bisa ditebak : RUSUH. Beliau dianggap wahabi, dianggap aliran sesat. Meski tetap pada akhirnya ada seorang ulama dari Muhammadiyah, H. Ridwan, membenarkan apa yang diceramahkannya.

Namun bagi orang yang sudah benar benar yakin dan pasrah atas pertolongan dan janji Allah, tidak ada halangan baginya untuk terus mengisi amunisi dakwah islamiyahnya. Sampai pada puncaknya, dakwah 'ekstrim' H. Ubaidah tercetus pada tahun 1970 ketika ia mencetak 1000 lembar brosur yang berisi ajakan kepada seluruh umat islam agar bersatu dalam satu wujud al jamaah. Lagi lagi ini bukan perkara main main, ajakan beliau ini konon sengaja disampaikan dari tingkat kecamatan hingga sampai ke tingkat menteri. Sebagai akibat, lagi lagi bisa kita tebak : GEGER. Tetapi jika kita mau teliti, semua gegeran yang pernah terjadi dalam alur sejarah perjuangan dakwahnya adalah kosekuensi dari wujud dakwah al haq itu sendiri. Bukan disebabkan karena melawan pemerintah RI atau berkeinginan untuk mengubah tatanan sistem pemerintahan orde baru yang sangat represif pada saat itu.

الم ﴿١﴾ أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

” Alif Laam Miiim, apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan : “kami telah beriman sedangkan mereka tidak diuji ?“

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang jujur dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang dusta”

Setelah puncak gegeran tahun 1979, maka metode dakwah ekstrim H. Ubaidah sedikit demi sedikit diatur sedemikian rupa agar masyarakat umum lebih menerima, yakni dengan cara yang lebih halus, tidak hantam kromo, yang pada akhirnya justru menyebabkan masyarakat umum menjauhi kebenaran (Qur'an Hadis).

Saat ini rupa rupanya banyak pihak yang masih juga tidak mengerti bahwa esensi dakwah H. Ubaidah itu bukan hanya mementingkan tauhid, namun lebih luas daripada itu, yakni dakwah al haq. Dakwah yang secara sadar maupun tidak disadari memisahkan antara yang haq dan yang bathil, memisahkan antara yang sunnah dan yang bid'ah, dan lain lain. Mengapa? karena tauhid itu sendiri merupakan salah satu prinsip keislaman seseorang yang seyogyanya wajib dilaksanakan secara bersamaan dengan prinsip prinsip islam yang lain. Mengapa? sebab islam itu satu. Islam itu wajib ditaati secara utuh dan sempurna, tidak setengah setengah atau parsial sesuka hawa nafsu. Dan yang perlu diingat, islam itu telah disempurnakan secara utuh oleh Sang Khaliq:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

"Pada hari ini (9 Dzulhijjah) telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku cukupkan kepadamu ni'mat Ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agamamu"

Jadi bisa disimpulkan bahwa bagi H. Ubaidah, semua prinsip prinsip islam (akidah, ibadah, hukum mualamah, akhlaq, adab) adalah penting yang seluruhnya perlu dijalankan oleh setiap orang islam secara simultan (bersamaan, beriringan) agar terpenuhi cita cita luhur : berhasil masuk surga, tanpa mencicipi sedikit pun siksa neraka. Tidak boleh ada pemahaman prinsip yang satu lebih penting dari yang lain, semua sama! PENTING dan WAJIB.

Contoh : Apakah ada seorang muslim yang mengaku bertauhid, ia tidak mementingkan masalah ibadah? "baca syahadat dan percaya bahwa Allah sebagai Tuhan saja sudah cukup, tidak sholat tidak apa apa, mati tetep masuk surga. Toh kita sudah jadi orang islam". Akidah atau kefahaman seperti Ini adalah akidah konyol.

Contoh lain : Apakah ada seorang muslim yang mengaku bertauhid, ia tidak mementingkan masalah hukum muamalah? "punya istri 10 tidak apa apa, toh kita sudah bersyahadat dan mengakui bahwa Tuhan satu satunya adalah Allah Ta'ala. Toh kita sudah jadi orang islam". Bagi saya, hanya orang gila yang punya akidah atau kefahaman agama seperti ini.

Jika mau bukti bahwa dakwah H. Ubaidah pun adalah dakwah tauhid, coba tanya kepada para sesepuh jaman dulu. Dengan hanya dibekali doa dan hasil mangkul seadanya, para santri H. Ubaidah diperintah untuk beramar makruf Qur'an Hadis di daerah mereka masing masing. Dari proses amar makruf tersebut maka datanglah rintangan, cobaan, gegeran. Setelah itu maka datanglah janji Allah, berupa pertolongan. Setelah pertolongan, maka datanglah janji Allah berupa kemenangan dan kejayaan. Maka dari proses sederhana inilah para santri H. Ubaidah merasakan hikmah Tauhid Sesungguhnya, yakni suatu keyakinan bahwa ternyata akidah dan agama yang dipegangnya adalah benar, dan Allah senantiasa bersama mereka yang sungguh telah berada dalam firqah najiyah (golongan yang selamat), dan mereka yang berada dalam thaifah al manshurah (golongan yang ditolong Allah). Akibatnya, mereka semakin yakin bahwa Allah adalah satu satunya Tuhan, Allah sebagai satu satunya yang pantas disembah, dan Allah pun mempunyai nama dan sifat. Itulah tauhid sesungguhnya, itulah manisnya keimanan. Metode 'pembuktian' tauhid yang terkesan ekstrim, tapi tepat pada sasaran tanpa perlu banyak teori. Maka semakin jelas, bahwa jika seseorang melakukan Dakwah Al Haqq, maka Dakwah Tauhid sudah termasuk di dalamnya.

Saran saya, janganlah mudah terkecoh oleh propaganda orang orang yang mengaku paling sesuai sunnah salafus shalih tapi hakikatnya mereka masih belum mengerti apa maksud Allah menurunkan agama islam ke muka bumi ini. Wahai saudara, islam itu luas tidak hanya tauhid. Ketahuilah bahwa islam datang untuk membedakan mana yang benar, mana yang salah. Agar kita semua selamat dunia dan akhirat.

وَقُلْ جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

"Dan katakanlah: yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap."
[wedusegembel.com]

Termasuk tanda hari kiamat salam hanya di sampaikan pd yang kenal saja

Diantara tanda-tanda Kiamat adalah seseorang hanya mengucapkan salam kepada orang yang dikenalnya. Dijelaskan di dalam sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata : “Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam bersabda :

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُسَلِّمَ الرَّجُلُ عَلَى الرَّجُلِ لاَ يُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِلاَّ لِلْمَعْرِفَةِ

“Sesungguhnya diantara tanda-tanda Kiamat adalah seseorang mengucapkan salam kepada yang lainnya, dia mengucapkan salam kepadanya hanya dengan sebab kenal” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat beliau pula :

إن بين يدي الساعة تسليم الخاصة

“Sesungguhnya menjelang hari Kiamat akan ada pengucapan salam kepada orang-orang tertentu”

Hal ini dapat kita saksikan sekarang. Banyak orang yang mengucapkan salam hanya kepada orang yang mereka kenal. Tentu saja hal ini bertentangan dengan sunnah, padahal Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam mendorong untuk mengucapkan salam kepada orang yang anda kenal atau tidak anda kenal. Sesungguhnya hal itu merupakan sebab tersebarnya kecintaan diantara kaum muslimin yang pada akhirnya sebagai sebab keimanan yang dapat mengantarkanya ke surga. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu, beliau berkata : “Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

لا تدخلون الجنة حتى تؤمنوا ولا تؤمنوا حتى تحابوا أو لا أدلكم على شيء إذا فعلمتموه تحاببتم ؟ أفشوا السلام بينكم

“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman (dengan sempurna) hingga kalian saling mencintai. Maukan kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian melakukannya, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam Diantara kalian” (HR. Muslim)
Ini adalah khabar dari Rasulullah yang benar-benar bisa kita lihat kebenaran dan kenyataannya pada zaman ini.

Sifat Pemaaf

Dalam hadits yang shahih disebutkan bahwa Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

صل من قطعك وأحسن إلى من أساء إليك وقل الحق ولو على نفسك

“Sambunglah tali silaturrahim dengan orang yang memutus hubungan denganmu, berbuat baiklah kepada orang yang berlaku buruk terhadapmu dan katakan yang haq walau menyakiti dirimu”

Ilmu kedokteran datang selaras dengan apa yang diwasiatkan Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam .
Dr. Fitche Georant berkata :
“Keistimewaan sikap memaafkan menjadikan orang yang mendapat perlakuan buruk mampu hidup tenang. Perasaan dendam dan benci akan mengeruhkan hidup, menyebabkan kegelisahan dan mengobarkan perasaan sakit di dalam relung hati. Adapun sikap memaafkan maka ia menghapuskan semua itu”

Sabtu, 26 Februari 2011

4 JENIS PERTANYAAN

Petuah orang bijak; MALU BERTANYA SESAT DI JALAN, meyiratkan makna bahwa agar kita tidak segan untuk menanyakan sesuatu yang kita tidak tahu agar kita tidak salah dan menjadi orang yg rugi.

Namun kadang2 kita menjumpai nasehat yang seolah-olah “kontradiksi” di suatu kesempatan ada yang nasehat; Kalau ada yang belum jelas silahkan bertanya jangan malu-malu ? namun di kesempatan lain ada yang nasehat dengan tegas; Jangan banyak bertanya sebab itu ciri-ciri orang Bani Israil dan termasuk 3 perkara yang dibenci oleh Allah !

Lalu …, mana yang benar; Bertanya …., atau Diam saja ..???

Untuk menjawab pertanyaan tersebut baiknya kita kenal dahulu jenis2 pertanyaaan;

1. Bertanya karena ingin tahu.
Ini adalah jenis pertanyaan yang bukan hanya boleh tapi wajib kita lakukan; kalau memang belum tahu/faham maka jangan segan2 untuk bertanya, hal ini sesuai dg firman Allah

فَاسْأَلُوا أَهْل الذِّكْر إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
Maka bertanyalah pada orang yang mempunyai peringatan (ahli ilmu) jika kalian tidak tahu. QS. An-Nahl : 43. dan Al-Anbiya’ : 7.

أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ
Mengapa mereka tidak mau bertanya ketika tidak tahu ? maka sesungguhnya obatnya kebodohan (hanyalah) bertanya. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad.

2. Bertanya karena dengan tujuan berbagi ilmu pada orang lain.
Biasanya dilakukan oleh orang Alim yang mengikuti suatu majelis ilmu dia melihat bahwa banyak orang yang belum faham atas beberapa perkara akan tetapi mereka malu atau segan bertanya kepada sang guru, maka si Alim berinsiatif untuk bertanya “mewakili” teman2nya yg belum faham, hal ini pernah terjadi di zaman Rasulullah S.A.W beliau pada suatu hari di datangi seorang laki2 yang asing (tdk ada seorangpun dari sahabat yg mengenalnya) dia bertanya kepada Rasulullah tentang 4 pertanyaan; apakah arti Islam, Iman, Ihsan dan Qiyamat, setelah lelaki itu pergi, Nabi memberi tahu kepada para sahabat; Dia (yang bertanya) adalah Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan (ilmu) agama pada kalian. HR. Al-Bukhari : K. Iman

3. Bertanya karena ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih tahu daripada yang ditanya.
Ini adalah pertanyaannya orang yang sombong yang telah melanggar etika atau adab orang mencari ilmu sebagaimana salah satu dari 9 Adab pencari ilmu yang ditulis oleh imam as-Syathibi.

4. Bertanya karena ingin merubah hukum.
Ini adalah jenis pertanyaan yang 100% tipikal “Bani Israil” dan yang dilarang oleh Allah serta Rasulullah S.A.W. pertanyaan seperti ini sangat bervariasi, ada yang karena menganggap terlalu ringan kemudian ditanyakan lagi sampai akhirnya peraturan/perintah berubah yang haram-menjadi halal dan sebaliknya, atau yg ringan menjadi berat, seperti kisah Bani Israil ketika diperintah memotong sapi betina (lihat QS. Al-Baqarah : 67-73.)

Kesimpulan :

- Pertanyaan nomer 1 dan 2 itu jenis pertanyaan yang diperbolehkan bahkan “wajib” hukumnya.

- Sedangkan pertanyaan jenis nomer 3 dan 4 haram hukumnya dalam hal ini Allah dan Rasul telah memberi peringatan keras;

يَا أَيّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاء إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ
Wahai orang2 yg beriman janganlah kalian bertanya dari perkara-perkara yang jika diterangkan (jawabannya) maka akan membertakan kepada kalian. QS. A-Maidah : 101

أَعْظَم الْمُسْلِمِينَ فِي الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْء لَمْ يُحَرَّم فَحُرِّمَ عَلَى النَّاسِ مِنْ أَجْل مَسْأَلَته
Orang-orang Islam yang paling besar dosanya adalah orang yang bertanya tentang sesuatu yang tidak diharamkan, (akhirnya) diharamkan gara-gara pertanyaannya. HR. Abu Dawud : K. Sunnah

Contoh aktual dari jenis pertanyaan “Bani Israil” ini;

Ada Mblg yg curhat ke sy bhw Daerahnya akan mengajukan pertanyaan ke Pst; Boleh tidaknya org Jm kerja di BANK convensional, sbnrnya bukan karena mereka tdk tahu bhw kerja di Bank itu HARAM hukumnya (sbb terlibat langsung dg Riba), akan tetapi, mereka berharap agar Pst membuat ijtihad “membolehkan”, sbb dlm pemahaman mrk bhw Pst adalah “sumber hukum” bagi Jm, ya salaaam…., ini jenis pertanyaan yg SESAT-MENYESATKAN. Pertanyaan konyol tsb terjadi sbb Mblgh Dae di Daerah tsb, didudukkan bukan sbg patnernya Imda melainkan sbg bawahan yg tdk punya hak bersuara/menasehati, didapuk hanya untuk duduk manis sj, LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH ...!

Bertanya pun ada aturannya, Nabi Nuh alaihis salam pernah ditegur oleh Allah gara2 “menanyakan” sesuatu yg tdk berlandaskan ilmu yaitu mempertanyakan kenapa anak “semata wayangnya” yang sangat dicintai termasuk orang yang ditelan badai (lihat QS. Hud : 45-47).

Jadi ….., Jangan takut bertanya selama anda memang belum faham karena hanya dengan bertanyalah anda akan menjadi faham, dan yakinlah bahwa anda akan mendapat pahala serta manfaat yang banyak sebab pertanyaan anda.

Tapi…., Takutlah bertanya jika niat anda sudah tidak “jujur” misalnya hanya karena ingin pamer, atau menjatuhkan wibawa guru yg ditanya, atau ingin merubah hukum “yang halal menjadi haram dan sebaliknya”.
[IM]

Rabu, 23 Februari 2011

BEBERAPA SEBAB UCAPAN NIAT “USHALLI” HARUS DITINGGALKAN :


1. Membaca niat ushalli tidak pernah dipraktekkan dan tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah B, berarti suatu bid’ah yang harus ditinggalkan, sebab jika tidak maka hanya akan membuat ...shalat kita tidak diterima oleh Allah;
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللهِ "ص" مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.
Barang siapa yang membuat hal yang baru di dalam perkaraku (praktek ibadah) yang tidak ada (contoh) di dalamnya dari perkara itu, maka (hal yang baru) itu ditolak. HR. Al-Bukhari : 2550 (2/959) dan Muslim : 4589 (5/132).

2. Membaca niat ushalli disertai keyakinan supaya shalatnya lebih sempurna, berarti dia telah menganggap lebih alim (tahu) bagaimanakah shalat yang lebih sempurna dibandingkan dengan shalat yang dipraktekkan dan diajarkan Rasulullah B;

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ
Hari ini telah kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan kusempurnakan atas kalian nikmat-nikmatku dan aku ridha islam sebagai agama kalian.QS. Al-Maidah : 3

3. Membaca niat ushalli disertai keyakinan bahwa itulah praktek yang benar, dan seharusnya dilakukan, berarti dia telah menuduh Rasulullah S.A.W tidak menyampaikan risalah dalam hal ini cara shalat yang benar kepada ummatnya;

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالاَتِ اللهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلا اللهَ وَكَفَى بِاللهِ حَسِيبًا.
Orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah dan takut kepada Allah dan tidak takut kepada siapapun melainkan Allah, dan cukup bagi Allah sebagai saksi. QS. Al-Ahzab : 39.

4. Membaca niat ushalli dengan niat agar Allah tahu bahwa dia mengerjakan shalat ini atau itu dengan niat betul-betul lillahi ta’ala berarti dia menganggap Allah bukan Dzat yang maha mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada, suatu kedurhakaan dan penghinaan kepada keagungan Allah ;

قُلْ أَتُعَلِّمُونَ اللهَ بِدِينِكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَاللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم.
Katakan (wahai Muhammad) apakah kalian hendak memberi tahu kepada Allah tentang agama (niat ibadah) kalian, sedangkan Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah mengetahui dengan segala sesuatu. QS. Al-Maidah : 3.

إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ.
Sesungguhnya Allah mengetahui pada keadaan dada (yang tersimpan di hati). QS. Luqman : 23.

- Shalat yang benar dan sempurna adalah mengikut cara shalatnya Rasulullah S.A.W (bukan mengikut pendapat Imam ini atau imam itu), Rasulullah S.A.W telah bersabda;
وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي.
Dan Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku Shalat. HR. Al-Bukhari : 6819 (6/2647)

- Khusus bagi penganut madzhab Syafii; Tidak ada satupun riwayat yang membuktikan bahwa imam as-Syafii rahimhullah membaca niat ketika akan shalat ataupun wudhu’.
[IM]

HUKUMNYA MEMBACA NIAT SHALAT


Tanya : Apakah hukumnya membaca niat ketika akan shalat ?
أُصَلِّي فَرْضَ ....، .... رَكَعَاتٍ إِمَامًا / مَأْمُومًا للهِ تَعالىَ
Aku (niat) solat fardhu ….., ….. rakaat dengan menjadi imam/makmum kerana Allah Taal...a

Jawab : Hukumnya adalah bid'ah, sbb Rasulullah S.A.W memulai shalatnya dengan takbir tanpa diawali dengan membaca niat, dan itulah Sunnah yang terbaik yang wajib kita ikuti, dalam hal ini beliau bersabda :
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ .
… Ketika kamu berdiri untuk mengerjakan Shalat maka sempurnakanlah wudhu’ kemudian menghadaplah ke qiblat dan bertakbirlah. HR. Al-Bukhari : 5897 (5/2307), juga diriwayatkan oleh; Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah.

Tanya : Ada yang mengatakan tapi niat “ushalli” …dst.” itukan dibaca sebelum takbir jadi tidak termasuk menambah rangkaian ibadah shalat maka tidak bisa dikatakan bid’ah ?.

Jawab : Pendapat ini tidak benar sebab itu hanya dalih atau alasan yang dibuat-buat; Walaupun dia katakan “di luar shalat”, tapi pada kenyataannya mereka yang sudah terbiasa membaca niat “ushalli” tidak mau dan tidak berani meninggalkan kebiasaannya itu. Bahkan kebanyakan mereka menganggap tidak sempurna shalatnya orang yang tidak membaca niat “ushalli”, itu berarti mereka telah menganggap shalatnya Rasulullah B juga tidak sempurna karena beliau tidak membaca niat tersebut, padahal kita diperintahkan mengerjakan shalat sebagaimana yang beliau praktekkan, beliau bersabda;

... وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي.
… Dan Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku (Nabi) Shalat. HR. Al-Bukhari : 605 (1/226)

Kesimpulan :
- Semua amalan yang kita kerjakan disertai niat dan niat itulah yang akan menentukan diterima atau tidaknya amal ibadah kita, berdasarkan sabda Nabi;
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.
Sesungguhnya amal dengan niat dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang diniatkannya, maka barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin dia peroleh atau karena perempuan untuk dia nikahi maka hijrahnya adalah sesuai dengan apa yang dia berhijrah karenanya. HR. Al-Bukhari : 1 (1/1)

Akan tetapi niat itu pekerjaannya hati bukan pekerjaan lisan, bukankah banyak orang yang antara lisan dengan hatinya tidak sama, sebagai perbandingan seseorang bersadaqah kepada pengemis dengan niat karena Allah tanpa diucapkan walaupun sedikit uang yang disadaqahkan tersebut maka dia akan mendapat pahala di sisi Allah, sebaliknya ada orang kaya yang memberi sadaqah $ 10,000 kepada orang miskin dengan mengatakan; Aku berikan uang $ 10,000 ini kepadamu dengan niat ikhlash lillahi ta’ala, aku tidak mengharap apa-apa darimu atau dari orang lain (tapi sebenarnya hatinya ingin disanjung sebagai dermawan maka sia-sialah sadaqah $ 10,000 tersebut dan ucapan niatnya itu sama sekali tidak berguna.
[IM]

Tanpa terasa, kita sudah begitu boros terhadap waktu


Trend hidup saat ini memaksa siapapun untuk menatap dunia menjadi begitu mengasyikkan. Serba mudah dan mewah. Sebuah keadaan dimana nilai kucuran keringat tergusur dengan kelincahan jari memencet tombol. Dengan bahasa lain, dunia menjadi begitu menerlenakan.
Tidak heran jika gaya hidup perkotaan menggiring orang menjadi manja. Senang bersantai dan malas kerja keras. Di suasana serba mudah itulah, waktu menjadi begitu murah. Detik, menit, jam, hingga hari, bisa berlalu begitu saja dalam gumulan gaya hidup santai.
Sebagai perumpamaan, jika seseorang menyediakan kita uang sebesar 86.400 rupiah setiap hari. Dan jika tidak habis, uang itu mesti dikembalikan; pasti kita akan memanfaatkan uang itu buat sesuatu yang bernilai investasi. Karena boleh jadi, kita tak punya apa-apa ketika aliran jatah itu berhenti. Dan sangat bodoh jika dihambur-hamburkan tanpa memenuhi kebutuhan yang bermanfaat.
Begitulah waktu. Tiap hari Allah menyediakan kita tidak kurang dari 86.400 detik. Jika hari berganti, berlalu pula waktu kemarin tanpa bisa mengambil waktu yang tersisa. Dan di hari yang baru, kembali Allah sediakan jumlah waktu yang sama. Begitu seterusnya. Hingga, tak ada lagi jatah waktu yang diberikan.
Sayangnya, tidak sedikit yang gemar membelanjakan waktu cuma buat yang remeh-temeh. Dan penyesalan pun muncul ketika jatah waktu dicabut. Tanpa pemberitahuan, tanpa teguran.
Allah SWT berfirman, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari Allah SWT).” (QAS Al-Anbiya’: 1)

Minggu, 20 Februari 2011

Benarkah Penghuni Neraka Paling Banyak Kaum Wanita?

Benar. Tapi, sebagai kaum wanita sholehat tidak perlu cemas, berkecil hati, merasa rendah, seolah-olah dinomor duakan. Coba kita perhatikan Al-Qur’an Surat Al-Hujurot No. Surat: 49, Ayat: 13, Alloh berfirman :
Yang Artinya : “Sesungguhnya orang yang paling mulia (di antara) kalian di sisi Alloh ialah orang yang paling taqwa (diantara) kalian”.

Dan di dalam hadits riwayat Imam Ahmad dan Thobroni, Rosulullohi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
Yang artinya: “Ketika seorang wanita sudah mengerjakan sholatnya yang lima waktu, dan sudah mengerjakan puasanya bulan Romadhon, dan sudah bisa menjaga farji (kemaluan) nya, dan sudah bisa tho’at kepada suaminya. Maka di katakan padanya “masuklah kamu ke surga dari pintu mana yang kamu kehendaki!”

Adapun mensikapi sabda Rosulullohi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam di dalam hadits riwayat Imam Bukhori yang berbunyi :
Yang artinya: “Aku di perlihatkan neraka, maka samasekali aku tidak pernah melihat pemandangan yang lebih jelek seperti hari ini dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita”.

Kaum wanita yang beriman “Mu’minat” tidak perlu demonstrasi untuk menolak hadits tersebut atau stress karena hadits itu. Karena hadits tersebut berkwalitas shohih dan tentu saja kita yakin sekali pada kebenaran sabda Rosulullohi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, tidakkah begitu? Yang terpenting adalah berfikir bagaimana caranya agar kaum wanita tidak termasuk dari bagian wanita yang paling banyak menjadi penghuni neraka itu.

Kalaupun misalnya sabda Rosul itu berbunyi “Aku di perlihatkan neraka penghuninya paling sedikit wanita”, tapi kalau kaum wanitanya sendiri malah termasuk di dalam kaum wanita yang paling sedikit itu, maka celakalah kaum wanita. Seperti misalnya ketika ada sebuah majalah di Jakarta beberapa tahun yang lalu mengadakan sebuah penelitian dan berkesimpulan, bahwa sembilan dari sepuluh suami di Jakarta pernah melakukan selingkuh. Apakah ketika itu ibu-ibu dari Majelis Ta’lim berdemonstrasi untuk menolak hasil penelitian terebut? Ternyata tidak, kan?! Mengapa? Karena, mereka merasa bahwa suaminya tidak termasuk golongan yang sembilan itu. maka ibu-ibu tersebut tenang-tenang saja, alias adem ayem.

Kalaulah masih ada hal-hal yang perlu dibenahi dari para penasihat, penceramah maklumlah mereka juga manusia biasa yang masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kaum wanita dalam kapasitas sebagai wanita mu’minat, sholehat sangat diharapkan bersedia untuk memberikan masukan kepada penasihat, penceramah sehingga pada lain kesempatan akan lebih baik.
[SB]

Mengapa Warga LDII Kaum Laki-laki Bercelana Ngatung di atas Mata Kaki?

Warga LDII berpakaian ngatung (bahasa jawa : cingkrang) di atas mata kaki seperti itu dalam rangka menta’ati sabda Rosuululloohi Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam yang tercantum di dalam Hadits Abu Daud, Kitaabul Libaas (Catatan Pakaian) , Juz 2, Bab Perkiraan Tempat Pakaian, secara berturut-turut akan dijelaskan di bawah ini:
Yang artinya : “Pakaian orang islam itu sampai separo betis dan tidak berdosa jika antara separo betis dengan kedua mata kaki, pakaian yang melebihi kedua mata kaki itu dalam neraka. Barang siapa yang melembrehkan (memanjangkan pakaiannya sampai melebihi kedua mata kakinya) dengan sombong (sengaja menolak kebenaran dan meremehkan), maka Alloh tidak akan memperhatikannya”.

Di dalam Hadits Tirmidzi Juz 3 hal 516, dari Abi Dzar, Nabi Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam, bersabda:
Yang artinya: “Ada tiga golongan, pada hari Kiamat kelak Alloh tidak akan memperhatikan mereka dan tidak akan mensucikan mereka dan mereka memperoleh siksa yang pedih. Kami (Abi Dzar) bertanya: “Siapa mereka itu, ya Rosuulallooh? Mereka itu sungguh rugi dan merugi”. Maka Rosuulullooh bersabda: “Orang yang mengungkit-ungkit dan orang yang mengisbal/melembrehkan pakaiannya dan orang yang menawarkan barang dagangannya dengan bersumpah dusta”.

Di dalam Hadits Shohih Bukhori, Kitaabul Libaas, Nabi bersabda:
Yang artinya: “Pakaian yang lebih bawah daripada kedua mata kaki
maka di dalam neraka”

Di dalam Hadits Abu Daud, Kitaabul Libaas, Juz 2, Rosuululloohi Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam, bersabda:
Yang artinya: ”Dan tinggikanlah pakaian kamu sehingga separo betis, jika kamu tidak mau maka separo kedua mata kaki, dan takutlah akan melembrehkan/memanjangkan pakaian karena itu termasuk kesombongan.
Dan sesungguhnya Alloh tidak senang pada kesombongan ”.

Di dalam Hadits Ibnu Majah, Juz 2, Kitaabul Libaas, Rosuululloohi Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam, bersabda:
Yang artinya: “Makanlah dan minumlah dan bershodaqohlah serta berpakaianlah selama itu tidak isroof (berlebihan) atau makhilah (sombong)”.

Kenyataan yang banyak kita jumpai di kalangan ulama’ atau pun umat, mereka memakai celana panjang yang isbaal menutupi mata kaki berdalih ”Biarkan saja celana saya isbal/melembreh melampaui mata kaki yang penting saya tidak sombong, tidak apa-apa kok”. Padahal dengan tetap saja berpakaian isbaal melampaui kedua mata kaki sudah cukup terbilang sombong. Karena tidak mengindahkan ketetapan Rosulullohi Shollallohu 'Alaihi Wasallam. Di dalam Hadits Tirmidzi Juz 4 hal 66, Rosuululloohi Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Yang artinya: “Ada seorang laki-laki keluar (dari rumahnya), ia termasuk orang sebelum ada kalian, ia mengenakan pakainnya, ia sombong dalam berpakaian, maka Alloh memerintah bumi (untuk menelannya), terus bumi mengambil/menelannya lalu ia meronta-ronta di dalam bumi, atau nabi bersabda: “Ia meronta-ronta sampai hari kiamat”.

Di dalam Hadits Shohih Muslim, Juz 1, Rosuululloohi Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Yang artinya : “(yang dimaksud dengan) Kesombongan adalah menolak yang haq (kebenaran) dan meremehkan manusia”.
Jadi, pengertian sombong itu ada dua, yaitu sombong terhadap Alloh dan Rosul-Nya, yakni tidak mengindahkan firman Alloh dan sabda Rosul-Nya. Dan sombong terhadap manusia, yaitu meremehkan manusia.
Akibat dari sombong kepada Alloh, terancam masuk Neraka Jahannam. Di dalam Al-Qur’an, Surat Al-Mu’min, No. Surat: 40, Ayat : 60, Alloh berfirman:
Yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina-dina”.

Akibat dari sombong kepada Rosululloh, terancam sholatnya tidak diterima. Di dalam Hadits Abu Daud, Kitaabul Libaas, Juz 2, dari Abi Huroiroh berkata: Suatu saat ada seorang laki-laki sholat dengan mengisbaalkan/memanjangkan/melembrehkan pakaiannya sampai melampaui mata kaki alias nyapu jagad lantas Rosuululloohi Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepadanya:

Yang artinya: “Pergilah terus berwudhu’lah kamu”. Lantas ia pergi lalu bewudhu’ kemudian ia datang lagi, terus Rosuulullooh bersabda “Pergilah terus berwudhu’lah kamu”. Maka ada seorang laki-laki berkata kepada Rosuulullooh “Ya Rosuulullooh, mengapa engkau menyuruhnya berwudhu”. Kemudian Rosuulullooh diam karenanya. Rosuulullooh bersabda “Karena ia sholat mengisbaalkan/melembrehkan pakaiannya sehingga melampaui mata kakinya sedangkan sesungguhnya Alloh Ta’alaa tidak menerima sholat seorang laki-laki yang melembrehkan pakiannya melampaui mata kaki”.

Jadi, sudah jelas menurut hadits-hadits diatas bahwa berpakaian ngatung di atas mata kaki itu merupakan pakaian Muslim (orang Islam) bukan ciri-ciri pakaian warga LDII atau sekedar mengikuti trendy mode. Karena warga LDII merasa dirinya sebagai Muslim, sebagai umat Rosuulullooh Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam yang konsekuen, patuh maka mereka mengenakan pakaian seperti itu dengan membuang rasa malu, gengsi dan ego diniati ibadah karena Alloh dan menjalankan sunnah. Sudah seharusnya-lah orang muslim berpakaian seperti itu. Dan jangan dianggap bahwa berpakaian seperti itu sesuatu yang sepele, norak atau kampungan. Warga LDII menyadari akan sabda Rosuululloohi Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam di dalam Hadits Tirmidzi Bab-bab Birru Washillah (Berbuat baik dan Sambung Famili), yang berbunyi:
Yang artinya: “Takutlah kamu kepada Alloh di manapun kamu berada”.

Sementara banyak orang yang merasa malu untuk berpakaian ngatung seperti itu. Kalaupun ia mau berpakaian ngatung paling banter pada waktu sholat saja, tapi pada saat di luar sholat, seperti ke kantor, dan lain-lain pakaiannya kembali menutupi kedua mata kaki. Dalam rangka takut atau takwa kepada Alloh itu mestinya tidak demkian. Di dalam Al-Qur’an, Surat Al-Mujaadilah, No. Surat: 58, Ayat: 7, Alloh berfirman:
Yang artinya: “Dia (Alloh) bersama mereka dimanapun mereka berada. Kemudian, pada hari kiamat Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan”.

Maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa berpakaian muslim “ngatung” di atas mata kaki itu tidak hanya dipakai waktu sholat saja, namanya saja pakaian orang muslim sudah barang tentu selalu dipakai setiap sa’at, 24 jam, dimanapun kita berada, selama kita masih merasa sebagai orang muslim. Kalau kita sebagai umatnya tidak mau berpakaian seperti itu lalu siapa yang akan mengindahkan sabda Rosuulullooh tersebut? Katanya kepingin masuk surga, kok membangkang, mengikuti hawa nafsu, tidak taat kepada Rosuulullooh! Ingatlah Pribahasa mengatakan “Pelari marathon gagal mencapai garis finish bukan karena sepatunya terganjal gunung melainkan karena di dalamnya ada batu kerikil”. Begitu juga orang gagal masuk surga karena ia mati masih membawa dosa. Tentu bukan karena dosa dari berbuat zina atau membunuh orang dan bukan juga karena murtad melainkan sebab dosa dari melembrehkan pakaiannya hingga melebihi kedua mata kaki. Kalau berzina, membunuh orang, murtad hukumnya sudah jelas, yaitu jika berzina dirajam atau dicambuk, jika membunuh orang diqishos yaitu ganti dibunuh, jika murtad dari agama Islam dibunuh. Tapi terkadang ulama' dan ummat ini malah tergelincir ke neraka hanya karena hal-hal yang dianggap dosa remeh atau bahkan merasa tidak berdosa bila melanggarnya, atau boleh jadi malah merasa tidak melanggarnya. Contoh berpakaian isbaal atau melembreh hingga menutupi kedua mata kaki. Padahal banyak dosa yang didapat. Coba bayangkan, ketika orang laki-laki yang berpakaian celana isbaal ini masuk WC hendak buang air seni "kencing" terkadang celana panjangnya hanya digulung ujungnya, ketika ia kencing dengan berdiri tanpa sadar ada cipratan kencing yang mengenai celana, dan juga memercik ke lantai ditempat ia berdiri, sementara lantainya tidak dapat membunag air dengan lancer maka pada saat ia menurunkan celananya kembali celananya menyentuh air di lantai yang sudah terkontamisi air kencing lalu ia berjalan masuk masjid atau musholla, ditambah lagi dengan lantai mulai dari WC sampai lantai ruang masjid menyatu, tidak ada batas tanah pemisah jarak antara WC dan ruang musholla atau masjid, dan tidak mengenakan sandal atau bakiak yang telah disediakan sehingga di khawatirkan pada waktu si pulan masuk kemasjid telapak kakinya atau ujung celananya tanpa sadar membawa najis percikan kencing yang dapat merusak sholatnya sendiri dan sholatnya orang lain. Padahal sebab perbuatannya, tidak hanya diri sendirinya yang terancam sholatnya tidak diterima dan mendapat siksa kubur, tetapi juga orang lain yang ikut menanggung akibatnya, sebab najis yang tidak perhatikannya. Di samping itu berarti dia tidak ikut serta menjaga kesucian musholla atau masjid. Maka, pastaslah kalau kelak di dalam kubur ia mendapat adzab. Telah diungkapkan di dalam Hadits Ibnu Majah Juz 1 hal 125, yang diriwayatkan oleh Abi Huroiroh, Abu Huroiroh berkata” Rosuululloohi Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Yang artinya: “Kebanyakan siksa kubur itu di karenakan oleh kencing
(kurang pandai menjaga najis dari air seni/kencing)”.

Di dalam Hadits Bukhori yang diriwayatkan dari Ibni Abbas, berkata : “Nabi Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam lewat pada dua kuburan, maka Nabi Shollalloohu ‘Alaihi Wasllam bersabda :

Yang artinya: “Sesungguhnya mereka berdua sedang disiksa, mereka bukan disiksa karena dosa besar. Salah satu mereka disiksa karena tidak membersihkan dari air kencing. Adapun yang satunya lagi disiksa karena suka adu domba”.

Sayang sekali kan, mendapat siksa kubur dan terancam masuk neraka hanya karena tidak paham hal-hal yang dianggapnya remeh seperti itu. Alloh Ta'alaa telah berfirman di dalam Al-Qur’an, Surat Thoohaa, No. Surat: 20, Ayat: 74, yang berbunyi:
Yang artinya: “Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya Neraka Jahannam, di dalamnya ia tidak mati, tidak (pula) hidup”.

Bagi orang laki-laki muslim berpakaian ngatung di atas mata kaki itu merupakan "Libaasut Taqwaa" pakaian taqwa, sehat, jauh dari kotoran, kuman dan najis, sayang isteri karena mudah mencucinya serta cermin orang muslim yang bertaqwa kepada Alloh. Alloh berfirman di dalam Al-Qur’an, Surat Al-A’roof, No. Surat: 7, ayat: 26, yang berbunyi:
Yang artinya: “Dan pakaian taqwa, itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh, agar mereka selalu ingat”.

Hasilnya orang muslim yang taat kepada Alloh dan Rosuul-Nya adalah masuk surga. Dasarnya adalah firman Alloh dalam Al-Qur’an, Surat An-Nisa’, No. Surat: 4, Ayat: 13, yang berbunyi:
Yang artinya: “Dan barangsiapa ta’at kepada Alloh dan Rosuul-Nya, niscaya Alloh memasukkannya kedalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai (sungai susu, madu, arak dan air tawar) dan mereka (hidup) kekal di dalamnya, dan itulah keberuntungan•yang besar”.

Hasilnya orang muslim yang mendurhakai Alloh dan Rosuul-Nya adalah masuk neraka. Dasarnya adalah Al-Qur’an Surat An-Nisa’ No. Surat: 4, Ayat: 14, yang berbunyi:
Yang artinya: “Dan barang siapa yang menentang kepada Alloh dan Rosuul-Nya dan melanggar batas-batas/ketentuan-Nya maka Alloh memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia mendapat siksa yang menghinakan”.

Dalam beribadah hendaknya kita jangan melihat pantas atau tidaknya menurut manusia termasuk dalam hal berbusana muslim tetapi melihatlah dasar hukumnya menurut Alloh dan Rosuul-Nya, karena hanya Alloh dan Rosuul-Nya yang dapat menjamin seseorang masuk surga atau neraka. Dan setiap aktivitas ibadah termasuk berbusana muslim jangan lupa kita niati semata-mata hanya karena Alloh, mengharapkan mendapat rohmat, keridhoan Alloh dan merasa takut dari adzab, murka, neraka Alloh sehingga ibadah kita tidak akan lapuk karena hujan dan tidak akan lekang karena panas, maju bukan karena pujian dan mundur bukan karena cacian tetapi semata-mata karena idzin Ilaahi Robbi. Di dalam Al-Qur’an, Surat Al-Isroo’, No. Surat:17, Ayat: 57, Alloh berfirman:
Yang artinya: “Dan mereka megharapkan rohmat-Nya, dan takut akan adzab-Nya”.

Mudah-mudahan dengan memahami yang benar terhadap dalil-dalil tersebut di atas, kita dapat mengubah cara berbusana kita yang belum sesuai dengan yang diinginkan oleh Rosuululoohi Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam menjadi berbusana muslim, berpakaian taqwa "BUSANA SYAR'I". Berpakaian yang diharapkan Alloh dan Rosuulullooh. Karenanya berpakaian ngatung adalah cermin dari hamba Alloh yang takwa asalkan itu dilakukan karena kesadaran hati atas ilmunya, bukan teturut munding, alias ikut-ikutan..
[SB]
Ada kesalahan di dalam gadget ini