Jumat, 18 Februari 2011

"MENGHADAPI COBAAN HIDUP"

Dalam Al-Qur’anul Karim, Surat Al-Baqoroh, No. Surat: 2, Ayat: 214, Alloh Ta’alaa berfirman, yang berbunyi:
Artinya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Kapankahkah datangnya pertolongan Alloh?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Alloh itu sangat dekat”.

Demikian, kata pasti yang tidak mungkin dapat diubah dan dirobah sebagai sunnatulloh, bahwa seseorang tidak mungkin dengan mudah akan masuk surga tanpa ada cobaan atau ujian terlebih dahulu. Memang, adalah sesuatu konsekwensi logis yang harus diterima oleh setiap insane, termasuk muballigh tanpa pandang bulu, ialah hidup ini pasti penuh dengan penderitaan dan cobaan dalam berbagai bentuk, walau juga kadang menyenangkan. Tidak seorangpun terlepas dari padanya.

Seorang muballigh akan merasa hambar hidupnya, tak enak dan tak ada manisnya, apabila tidak ada cobaan. Sebab, seorang muballigh meyakininya itu kehendak Ilaahi Robbi, yang sudah pasti akan ada akhirnya, seperti dalam pepatah lama, “Seterik-teriknya matahari, pasti redup juga. Seganas-ganasnya ombak di lautan akan reda jua”. Karenanya, derita dan cobaan hidup disambutnya dengan nafas lega dan lapang dada, sambil berserah diri kepada Alloh Ta’alaa sepenuh hati, dengan keyakinan penuh percaya bahwa derita ini ditimpakan tidak lain hanyalah, Alloh Ta’alaa hendak menilai, siapakah yang benar ucap dan sikapnya, dan menilai pula siapa dari mereka yang pembohong. Sebagaimana telah disebutkan dalam Al-Qur’an, Surat Al-Ankabuut, No. Surat: 29, Ayat: 3, yang berbunyi:
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami (Alloh) telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia (Alloh) mengetahui orang-orang yang dusta”.

Seorang muballigh akan senantiasa mengupayakan agar ada keserasian antara ucapan dan tindakannya, ia tidak mau menjadikan dirinya sebagai hamba Alloh Ta’alaa yang pendusta. Lantang dan lancar tutur lidahnya, juga lancang hati dan tindakannya, di kala coba derita datang menantang. Seorang muballigh dengan segala daya upaya akan melalui cobaan dan derita dengan sabar dan tawakal, sekalipun resikonya berat sekali terhadap diri pribadinya. Dengan cobaan itu akan tersisih antara emas dan Loyang, antara besi dan karatnya. Yang jelas, Alloh Ta’alaa hendak membersihkan hamba-Nya dari dosa dan noda kesalahan yang pernah dilakukan.

Mudah-mudahan dengan sabar dan sholat, tawakal dan tabah yang semakin mapan, akan menghantarkan kita kearah kehidupan yang lebih baik, bahagia dan sejahtera. Amiin.
[S.Baiturrahman]

0 komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini