Kamis, 03 Maret 2011

TUGAS SEORANG LELAKI (SEBAGAI SUAMI, AYAH SEKALIGUS IMAM DALAM RUMAH TANGGA)

Assalamu alaikum wr wb,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.

Ayat yang mulia ini merupakan perintah langsung dari Allah S.W.T agar setiap orang iman senantiasa berusaha menyelamatkan dirinya sendiri dari ancaman api neraka dengan cara mentaati peraturan-peraturan Allah dan menjauhi larangan-laranganNya, selain dari itu mereka juga diberi tanggung-jawab untuk senantiasa “amar ma’ruf nahi anil mungkar” kepada keluarga (terutama istri dan anak-anaknya) sebagaimana yang disabdakan Rasulullah S.A.W;

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، الحديث. رواه البخاري ومسلم
Dari Ibnu Umar, dari Nabi S.A.W sesungguhnya beliau bersabda; Ketahuilah bahwa setiap kalian adalah penggembala dan setiap kalian akan ditanya tentang gembalaannya, seorang amir yang memimpin manusia adalah penggembala dan dia akan ditanya tentang gembalaan (rukyah) nya, seorang lelaki (kepala rumah tangga) adalah penggembala atas keluarga rumahnya dan dia akan ditanya tentang mereka, dan orang perempuan adalah penggembala atas rumah serta anaknya suami dia akan ditanya tentang mereka… dst. HR. Al-Bukhari dan Muslim.

Jadi tugas seorang lelaki (sebagai suami dan ayah sekaligus imam di dalam rumah-tangga) kepada anggota keluarganya bukan hanya dalam urusan memberi tempat tinggal, makanan dan minuman saja, namun yang terpenting dan akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah Azza wa Jalaa adalah tugas mendidik mereka dalam urusan agama, termasuk menanamkan faham jamaah (wajibnya menetapi QHJ).

Khusus dalam mendidik anak; Hendaklah usaha mendidik mereka dengan ilmu agama dari sejak mereka masih kecil, pepatah Melayu mengatakan “Melentur buluh biarlah dari rebungnya” artinya mendidik anak dari sejak kecil dalam urusan agama akan lebih efektif jika dari sejak mereka masih mudah diarahkan (belum berani dan belum mampu untuk membangkang), hal ini sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah S.A.W kepada para orang tua agar mendidik anak untuk mengerjakan sholat sejak mereka berumur 7 tahun;

عَنْ سَبْرَةَ قَالَ، قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مُرُوا الصَّبِىَّ بِالصَّلاَةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا. رواه أبو داود و الترمذي واللفظ لأبي داود
Dari Sabrah dia berkata, Nabi S.A.W perintahlah anak kecil mengerjakan sholat ketika telah sampai umur 7 tahun, dan ketika telah sampai umur 10 tahun maka pukullah atas (tidak mau) mengerjakan sholat. HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi

Mendidik anak dengan penuh tanggung jawab adalah termasuk amal ibadah yang istimewa yang bisa membuat seseornag derajatnya tinggi di sisi Allah, contohnya adalah Luqman Al-Hakim, dia bukan seorang Nabi atau Rasul, bukan seorang Mujahid yang waktunya dihabiskan di medan peperangan membela agama Allah, bukan ulama besar, dia hanyalah seorang lelaki Habsiy yang berkulit hitam dan berprofesi sebagai An-Najjar (tukang kayu) tapi subhanallah derajatnya sungguh mulia di sisi Allah sehingga namanya di abadikan dalam Kitab suci Al-Qur’an menjadi nama dari surah yang ke 31, salah satu yang paling menonjol dari seorang Luqman Al-Hakim adalah nasehat-nasehatnya yang penuh hikmah yang dia tujukan khusus kepada anak lelakinya.

Sebaliknya jika tugas membimbing keluarga untuk mentaati peraturan Allah dan Rasul serta menjauhi larangan-larangannya tidak dipenuhi oleh seorang lelaki sebagai imam dalam keluarga, maka kelak anak dan istrinya yang saat ini (dalam kehidupan dunia) sangat disayangi dan dicintainya akan berbalik menjadi musuh utamanya yang bersungguh-sungguh berusaha mencelakakannya dan membuatnya haram (terhalang) masuk surga;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ، الآية. سورة التغابن: ١٤
Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya sebagian dari istri dan anakmu adalah musuh bagimu maka berhati-hatilah terhadap mereka.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنُ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ثَلاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمْ الْجَنَّةَ، مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالْعَاقُّ، وَالدَّيُّوثُ الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ. رواه أحمد
Dari Abdullah bin Umar, sesungguhnya Rasulullah S.A.W bersabda; tiga golongan yang Allah haramkan atas mereka untuk masuk surga; Orang yang membiasakan minum arak, orang yang durhaka (kepada orang tua) dan “dayuts” yaitu orang yang menyetujui (membiarkan) kejelekan/kemaksiatan di dalam keluarganya. HR. Ahmad

Semoga para lelaki (termasuk saya) senantiasa sadar dan ingat akan tugas berat dan amanah besar yang saat ini dipikulkan di bahunya dan kelak akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Tuhan semesta alam. Amiiin
[IM]

1 komentar:

Ilman Muttaqin mengatakan...

nice

(ilmanmuttaqin.student.ipb.ac.id)

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini